
Gunung Anak Krakatau (foto: wahananews.co)
JAKARTA - Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama beberapa jam pada 5 September 2026, disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala yang terlihat terus-menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Krakatau Pasauran, Banten.
Badan Geologi Kementerian ESDM melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Fenemena tersebut dipastikan merupakan fenomena yang umum terjadi.
Laporan khusus Badan Geologi Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026 menyebut erupsi menerus mulai terjadi pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB. Hingga pukul 04.40 WIB, aktivitas tersebut masih berlangsung dan suara gemuruh masih terdengar dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi," tulis Badan Geologi Kementerian ESDM, Sabtu (5/9).
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga diduga berkaitan dengan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung.
"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan."
Sementara itu, aktivitas Gunungapi Anak Krakatau kembali menjadi perhatian karena gunung tersebut memiliki sejarah erupsi yang pernah berkaitan dengan tsunami.
Pada 1883, erupsi besar Anak Krakatau menghasilkan tsunami. Peristiwa lain terjadi pada 22 Desember 2018 ketika aktivitas gunungapi dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Namun, kondisi Anak Krakatau saat ini berbeda. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tubuh Gunungapi Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Meski demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunungapi tetap dipantau secara intensif.
"Hingga saat ini, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," tulis Badan Geologi.
Dalam laporan tersebut, dijelasakan juga bahwa tinggi kolom erupsi tidak dapat teramati. Namun, semburan erupsi berwarna merah menyala terlihat jelas secara menerus.
Badan Geologi menyebut potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Badan Geologi merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki maupun melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunungapi.
Masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau dapat diperoleh melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Magma Indonesia, dan Badan Geologi. Masyarakat juga dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran untuk mendapatkan informasi terbaru.
Dengan status yang masih berada pada Level III atau Siaga, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi tersebut dan tidak memasuki radius bahaya. Badan Geologi memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas serta perubahan morfologi Gunungapi Anak Krakatau.
Sabtu, 05/09/2026
Selasa, 01/09/2026