
Audiensi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan PT ASDP Indonesia Ferry, Jakarta, Senin (27/7/2026). Foto: asdp/katakini
JAKARTA – Kajian awal yang dilakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menunjukkan bahwa lintasan Long Distance Ferry (LDF) yang menghubungkan Pulau Jawa, khususnya Surabaya dengan Lembata dan Belu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki prospek yang menjanjikan.
Hal itu disampaikan ASDP saat beraudiensi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT yang membahas percepatan pengembangan lintasan LDF yang menghubungkan Pulau Jawa dengan NTT di Kantor Pusat ASDP, Senin (27/7/2026).
Audiensi dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT Frederik Christian Purwanto Koenunu mewakili Gubernur NTT, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran, Bupati Belu Willybrodus Lay, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, Direktur Utama ASDP Heru Widodo, Wakil Direktur Utama Yossianis Marciano, Direktur Operasi dan Transformasi Rio Lasse, beserta jajaran manajemen ASDP dan para pemangku kepentingan.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa pengembangan Long Distance Ferry bukan sekadar membuka lintasan baru, melainkan bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional, khususnya dalam meningkatkan aksesibilitas wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan) sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
"Bagi ASDP, konektivitas bukan sekadar menghubungkan pelabuhan, tetapi memastikan setiap layanan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Layanan penyeberangan harus mampu memperlancar distribusi barang, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses pasar, menjaga rantai pasok, sekaligus membuka peluang ekonomi baru," ujarnya melalui keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Menurut Heru, pengembangan Long Distance Ferry diharapkan menjadi simpul logistik yang memperkuat konektivitas kawasan timur Indonesia dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan perbatasan.
Dalam audiensi tersebut, ASDP memaparkan hasil kajian awal pengembangan lintasan Long Distance Ferry yang menghubungkan Surabaya dengan Lembata dan Belu.
Kajian awal menunjukkan NTT memiliki prospek yang menjanjikan, didukung pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, tingginya kebutuhan distribusi barang dari Pulau Jawa, serta potensi komoditas unggulan seperti peternakan, perikanan, rumput laut, garam, dan hasil perkebunan yang dapat menjadi muatan balik menuju Jawa.
Pola tersebut diyakini berpotensi membentuk ekosistem logistik dua arah yang lebih efisien sekaligus mengurangi perjalanan kapal tanpa muatan.
Selain memangkas waktu dan biaya distribusi melalui layanan Ro-Ro langsung tanpa alih muat, pengembangan lintasan ini juga diharapkan mampu menghadirkan kepastian jadwal pengiriman, menekan risiko kerusakan barang, serta memperkuat rantai pasok antarwilayah.
Kolaborasi
Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq menyampaikan apresiasi atas komitmen ASDP dalam membuka ruang kolaborasi untuk memperkuat konektivitas wilayah kepulauan.
"Kami bersyukur dapat berdiskusi bersama ASDP. Yang terpenting adalah memastikan perjalanan pergi maupun pulang memiliki muatan sehingga layanan dapat berjalan secara berkelanjutan. Transportasi laut merupakan urat nadi daerah kepulauan, dan kami berharap kolaborasi ini menjadi awal penguatan konektivitas yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur," ujarnya.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menambahkan bahwa pengembangan lintasan baru hanya dapat berhasil melalui kolaborasi yang erat. Pemerintah daerah berperan memperkuat ekosistem usaha dan infrastruktur pendukung, ASDP memastikan layanan yang andal, sementara pelaku usaha menghadirkan kepastian muatan sehingga tercipta koridor logistik yang sehat dan berkelanjutan.
"Audiensi ini menunjukkan adanya potensi yang baik untuk pengembangan koridor Long Distance Ferry Jawa–NTT. Namun, potensi tersebut masih perlu diperdalam melalui kajian lanjutan bersama seluruh pemangku kepentingan. Berbagai masukan dari pemerintah daerah menjadi modal penting untuk menyempurnakan perencanaan sehingga implementasinya kelak memiliki dasar yang kuat, memenuhi aspek kelayakan, dan mampu menghadirkan layanan yang berkelanjutan," jelas Windy.