
Tim melakukan pekerjaan pembersihan puing di sebuah bangunan yang runtuh setelah gempa bumi di Caracas, Venezuela, pada Rabu, 24 Juni 2026. /ANTARA/Diko Betancourt - Anadolu/pri.
Jakarta, Jurnas.com - Juru bicara PBB Stephane Dujarric pada Selasa mengatakan bahwa operasi kemanusiaan untuk mencari korban gempa bumi di Venezuela semakin sulit akibat curah hujan yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko longsor dan runtuhan lebih lanjut.
"Rekan-rekan kemanusiaan kami mengatakan upaya penyelamatan yang mereka lakukan semakin rumit akibat gelombang tropis dan curah hujan lebat yang terus menerus melanda Venezuela. Kondisi ini meningkatkan risiko runtuhan bangunan lebih lanjut dan tanah longsor di daerah yang sudah terdampak," kata Dujarric dalam sebuah pengarahan.
Otoritas nasional tengah memantau zona berisiko tinggi, sementara PBB dan mitra kemanusiaan terus memperluas bantuan penyelamatan jiwa untuk mendukung upaya yang dipimpin pemerintah Venezuela, imbuhnya.
"Rekan-rekan kami di Kantor Koordinasi dan Urusan Kemanusiaan memberi tahu kami bahwa operasi pencarian dan penyelamatan internasional beroperasi penuh, dengan 50 tim penyelamat dan lebih dari 2.300 personel bekerja berdampingan dengan otoritas nasional seiring dengan semakin sempitnya waktu kritis untuk menyelamatkan nyawa para korban," imbuh Dujarric.
Pada 24 Juni 2026, dua gempa bumi dahsyat dengan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela.
Menurut data resmi terbaru, jumlah korban tewas telah mencapai 1.719 orang, dengan lebih dari 5 ribu orang luka-luka, dan 12 ribu orang mengungsi.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti