
Ilustrasi kekayaan (Foto: Unsplash/Marek Studzinski)
JAKARTA - Beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW ternyata memiliki kekayaan setara triliunan rupiah jika dikonversi ke nilai saat ini. Namun yang membuat mereka berbeda bukan sekadar jumlah hartanya, melainkan bagaimana mereka memperlakukan kekayaan tersebut.
Di saat banyak orang terjebak dalam gemerlap dunia, para sahabat ini justru menjadikan harta sebagai alat perjuangan, yakni disedekahkan, dibelanjakan untuk umat, bahkan dihabiskan di jalan Allah. Mal shalih fi yad rajul shalih, harta yang baik di tangan orang yang baik.
Berikut potret lima sahabat Nabi terkaya berdasarkan berbagai sumber klasik, lengkap dengan estimasi nilai kekayaan dalam rupiah modern yang dihimpun dari DSN MUI dan berbagai sumber lainnya.
Utsman bin Affan dikenal sebagai salah satu sahabat paling kaya sekaligus paling dermawan. Total kekayaannya, berdasarkan perhitungan dari aset tunai, dinar, dan kepemilikan unta, ditaksir mencapai lebih dari Rp2,53 triliun.
Namun angka ini kemungkinan belum mencerminkan keseluruhan hartanya. Ia pernah membeli sumur Raumah senilai 20.000 dirham untuk kepentingan umat, serta menyumbangkan ratusan unta untuk logistik perang Tabuk.
Kekayaan Utsman tidak pernah menghalanginya untuk memberi. Justru sebaliknya, hartanya menjadi alat untuk menopang dakwah.
Thalhah bin Ubaidillah memiliki kekayaan yang ditaksir mencapai Rp542 miliar, bahkan menurut riwayat lain bisa menyentuh Rp1,84 triliun.
Selain aset tunai dalam jumlah besar, ia juga memiliki investasi tanah yang nilainya signifikan. Meski demikian, sebagian sumber menyebutkan adanya perbedaan validitas riwayat terkait total kekayaannya.
Yang pasti, Thalhah dikenal sebagai sahabat yang sangat dermawan dan tidak segan menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Jika dibandingkan, Az-Zubair bin Al-Awwam bisa disebut sebagai “konglomerat properti”. Total kekayaannya diperkirakan mencapai Rp3,54 triliun, sebagian besar dalam bentuk aset tidak bergerak.
Ia memiliki banyak rumah di Madinah, Bashrah, Kufah, hingga Mesir. Selain itu, ia juga memiliki lahan luas yang bernilai tinggi.
Menariknya, sebelum wafat, ia telah mengatur distribusi hartanya dengan detail, termasuk wasiat untuk cucu-cucunya, menunjukkan perencanaan finansial yang matang jauh sebelum konsep modern dikenal.
Kisah Abdurrahman bin Auf adalah gambaran klasik “from zero to hero”. Saat hijrah ke Madinah, ia datang tanpa harta. Namun dengan keahlian bisnisnya, ia membangun kekayaan hingga mencapai Rp6,2 triliun menurut salah satu riwayat.
Versi lain menyebutkan total kekayaannya sekitar Rp4,97 triliun, belum termasuk aset ternak dalam jumlah besar seperti 1.000 unta, 100 kuda, dan 3.000 kambing.
Yang lebih mencengangkan, ia tetap aktif bersedekah dalam jumlah besar, termasuk wasiat 40.000 dinar kepada para veteran perang Badar.
Kedermawanannya membuat Aisyah RA mendoakan keberkahan khusus untuknya, sebuah penghormatan yang menunjukkan betapa besar kontribusinya.
Sa’d bin Abi Waqqash mungkin tidak sekaya sahabat lainnya dalam daftar ini, namun kekayaannya tetap signifikan, sekitar Rp15,3 miliar.
Ia dikenal sebagai pemanah pertama dalam sejarah Islam dan termasuk golongan awal yang masuk Islam. Kekayaannya mencerminkan kehidupan yang seimbang antara perjuangan dan keberkahan harta.
Angka-angka fantastis ini bukan sekadar simbol kekayaan, tetapi juga bukti bagaimana harta berada di tangan yang tepat.
Para sahabat ini tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, mereka menggunakannya untuk perjuangan, membantu sesama, dan mendukung dakwah Islam.
Di tengah realitas modern, di mana kekayaan sering identik dengan gaya hidup mewah, kisah mereka menjadi pengingat: bahwa kekayaan sejati bukan hanya pada jumlahnya, tetapi pada bagaimana ia digunakan.
Catatan Perhitungan:
Estimasi rupiah didasarkan pada harga emas (dinar) dan perak (dirham) serta nilai unta berdasarkan asumsi pasar modern. Nilai ini bersifat pendekatan dan kemungkinan lebih kecil dari realitas sejarah yang sebenarnya, mengingat banyak sedekah dan aset yang tidak terdokumentasi secara lengkap, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. (*)
Wallahu`alam