
Warga Palestina berjalan melewati reruntuhan bangunan (Foto: REUTERS)
GAZA - Menjelang Idul Adha yang di banyak dunia Muslim identik dengan kebersamaan dan perayaan, bagi Ahmed Nashwan, seorang pria Palestina dari Jalur Gaza, hari raya itu justru mengingatkan akan penderitaan dan kesedihan yang disebabkan oleh perang.
Untuk tahun ketiga berturut-turut, dia tidak pergi bersama para saudara laki-lakinya dan putra-putranya ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban, salah satu tradisi paling ikonik dari Idul Adha.
"Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami," kata Nashwan kepada Xinhua. "Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin."
Idul Adha yang berlangsung selama empat hari, yang akan dimulai pada pekan ini, merupakan satu dari dua hari raya besar umat Muslim dan ditandai dengan penyembelihan hewan ternak bagi mereka yang mampu.
"Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan," kata Nashwan, "karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari."
Meski gencatan senjata tercapai antara Hamas dan Israel pada Oktober 2025, Israel tetap mempertahankan pembatasan ketat di jalur itu, yang sangat membatasi arus barang masuk ke daerah kantong tersebut. Bahkan ternak seperti domba dan anak sapi, yang penting untuk kurban Idul Adha, masih sulit diperoleh dan jumlahnya jauh dari kebutuhan masyarakat setempat.
Menurut Maher al-Tabbaa, direktur Kamar Dagang Gaza, harga seekor hewan kurban melonjak dari sekitar 500 dolar AS (1 dolar AS = Rp17.736) sebelum perang menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS saat ini, jauh di luar daya beli sebagian besar penduduk.
Mohammed al-Hissi (40), seorang ayah empat anak dari Gaza City, mengatakan kepada Xinhua bahwa hewan kurban menjadi hampir tidak mungkin diperoleh karena kelangkaan parah dan harga yang melonjak.
"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya.
"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza," jelasnya. "Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka."
Di Gaza selatan, Mohammed Shallah berdiri di samping makam ayahnya, yang tewas dalam sebuah serangan udara Israel di Khan Younis, sembari mengenang tradisi keluarga saat Idul Adha di tahun-tahun sebelumnya.
"Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban," kata Shallah (22) kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dia tidak lagi mampu melanjutkan tradisi yang dulunya selalu diamalkan ayahnya.
"Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal," katanya. "Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali."
Pedagang ternak Salah Afana membenarkan kepada Xinhua bahwa harga telah naik beberapa kali lipat sejak meletusnya perang, sementara permintaan hewan kurban "hampir tidak ada lagi" akibat kemiskinan yang meluas.
"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.
Raafat Asaliya, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, mengatakan bahwa daerah kantong itu sebelum perang biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi dan sekitar 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahun menjelang Idul Adha.
"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan telah hancur selama perang.
Penghancuran area penghasil ternak di Gaza timur berdampak parah terhadap ketersediaan hewan kurban, kata al-Tabbaa.
"Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut," ujarnya. "Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza."
Sumber: Xinhua