Ini Pelajaran yang Bisa Diambil dari Cara Rasulullah Memperlakukan Istri

Vaza Diva | Minggu, 10/05/2026 17:45 WIB


Rumah tangga yang dibangun oleh Rasulullah SAW bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah Islam. Ilustrasi - ini pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan istrinya (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

JAKARTA - Rumah tangga yang dibangun oleh Rasulullah SAW bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah Islam, tetapi juga menjadi contoh ideal tentang bagaimana cinta, penghormatan, dan kasih sayang dijalankan dalam kehidupan berkeluarga.

Di tengah kehidupan modern saat ini, banyak orang lebih memilih mengikuti konsep hubungan dari teori populer, padahal Islam telah memberikan teladan terbaik melalui akhlak Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT sendiri menegaskan bahwa Rasulullah merupakan contoh yang patut diteladani oleh umat manusia.

Dalam Al-Qur`an disebutkan:

Baca juga :
Ketepatan Waktu Keberangkatan Calon Jamaah Haji dari Bandara InJourney Airports Capai 96%

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Baca juga :
5 Wisata Alam di Pati yang Wajib Dikunjungi saat Liburan

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Sebagai seorang suami, Nabi Muhammad SAW dikenal sangat lembut dan penuh perhatian kepada istri-istrinya.

Baca juga :
Tahun 2025, ASDP Alami Lima Kecelakaan Kapal

Beliau tidak ragu menunjukkan kasih sayang secara terbuka, termasuk dengan memberikan panggilan-panggilan istimewa kepada Aisyah r.a.

Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Humaira, yang menggambarkan pipi kemerah-merahan sebagai bentuk cinta dan kemesraan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa ukuran kebaikan seseorang terlihat dari sikapnya terhadap keluarga.

Dalam hadis disebutkan:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Tidak hanya memberikan perhatian secara emosional, Nabi juga terlibat langsung dalam pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak menganggap urusan domestik sebagai pekerjaan rendah.

Saat Aisyah r.a. ditanya tentang kebiasaan Rasulullah di rumah, ia menjelaskan bahwa Nabi membantu pekerjaan keluarganya hingga waktu salat tiba.

Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam rumah tangga bukan tentang kekuasaan, melainkan tanggung jawab dan keteladanan. Rasulullah SAW tetap membantu di rumah meski beliau adalah pemimpin umat dan kepala negara.

Selain itu, Nabi juga menghadirkan suasana hangat dan penuh kebahagiaan dalam keluarga.

Beliau pernah bercanda dan berlomba lari bersama Aisyah r.a., menunjukkan bahwa hubungan suami istri dalam Islam tidak harus selalu kaku dan formal. Kehangatan seperti inilah yang membuat rumah tangga terasa hidup dan penuh cinta.

Akhlak Rasulullah semakin terlihat ketika menghadapi persoalan rumah tangga. Beliau dikenal sangat sabar dan tidak pernah melakukan kekerasan kepada istri maupun pembantunya. Dalam sebuah hadis disebutkan:

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً وَلَا خَادِمًا

Rasulullah SAW tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, tidak pula memukul wanita maupun pembantu.”
(HR. Muslim)

Sikap lembut dan penuh pengendalian diri itu menjadi bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap perempuan. Rasulullah memilih menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan kesabaran, dialog, dan kebijaksanaan.

Beliau juga tidak menutup diri dari pendapat istrinya. Dalam beberapa peristiwa penting, Nabi menerima masukan dari Ummu Salamah r.a., termasuk saat menghadapi situasi sulit dalam Perjanjian Hudaibiyah. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi dan musyawarah dalam keluarga memiliki nilai penting dalam Islam.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam membina rumah tangga mengajarkan bahwa keluarga yang harmonis dibangun dengan kasih sayang, saling menghormati, dan akhlak yang baik.

Rumah bukan tempat mempertontonkan ego atau kekuasaan, tetapi ruang untuk menghadirkan ketenangan dan keberkahan.

Menghidupkan kembali nilai-nilai rumah tangga ala Rasulullah berarti menanamkan cinta, kelembutan, dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keluarga dapat menjadi tempat terbaik untuk tumbuhnya kebahagiaan dunia sekaligus jalan menuju keberkahan akhirat.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info Keislaman Rumah Tangga Rasulullah SAW Sejarah Islam