Mentrans Tekankan Kewaspadaan dalam Misi Perdamaian Dunia di Lebanon

M. Habib Saifullah | Senin, 06/04/2026 15:17 WIB


Mentrans M.Iftitah Suryanagara menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga TNI pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) Menteri Transmigrasi (Mentrans) M.Iftitah Sulaiman Suryanagara (Foto: Humas Kementrans)

JAKARTA - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M.Iftitah Suryanagara menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya tiga TNI pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).

Hal ini disampaikannya dalam wawancaranya terkait dinamika konflik di Lebanon, termasuk gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian, Minggu (5/4/2026).

"Izinkan saya untuk menyampaikan duka cita yang mendalam serta bela sungkawa kepada tiga prajurit TNI yang gugur," kata Mentrans dalam keterangan tertulis, diterima di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Mentrans Iftitah juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang tangguh serta kewaspadaan tinggi dalam menjalankan misi perdamaian dunia.

Baca juga :
Sudah Sasar Desa, Mendes Yandri Setuju soal Pelarangan Vape

Menteri yang juga veteran pasukan perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) itu mengatakan bahwa dalam perspektif kepemimpinan, tantangan utama di lapangan adalah ketidakpastian yang tinggi.

Baca juga :
AMSI Desak Dewan Pers Lindungi Magdalene dari Pembatasan Konten

"Tantangannya adalah bagaimana kita selalu waspada karena eskalasi konflik dapat meningkat sewaktu waktu, sehingga dibutuhkan kesiapsiagaan dan kemampuan pengambilan keputusan yang tepat oleh setiap prajurit di lapangan," kata Mentrans.

Mentrans juga berbagi pengalaman saat beliau bertugas pada 2006 hingga 2007 silam, ketika situasi keamanan di Lebanon sangat dinamis pascaperang 34 hari. Ia menegaskan bahwa tugas pasukan perdamaian tidak sesederhana yang terlihat.

Baca juga :
Kemendikdasmen Sukses Gelar Program TKA SMP Gelombang Pertama

“Tugas dari pasukan perdamaian sebetulnya adalah menjaga perdamaian itu sendiri. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, pelaksanaannya di lapangan tidak semudah itu,” katanya.

Menteri Iftitah juga menjelaskan bahwa mandat pasukan perdamaian mengacu pada Piagam PBB, khususnya Chapter VI dan Chapter VII.

Dalam konteks UNIFIL, terdapat kompleksitas mandat yang lebih luas. Ia juga menyoroti berbagai ancaman nyata yang dihadapi pasukan perdamaian, mulai dari ranjau hingga tekanan psikologis.

“Kita sebagai veteran perdamaian sering mengutip Resolusi 1701 sebagai Chapter 6,5. Hal ini memberikan sinyal bahwa situasi UNIFIL sangat rentan dan laten terhadap potensi konflik besar. Situasinya sangat fluktuatif. Di permukaan tampak biasa saja, tetapi setiap saat eskalasi dapat meningkat,” ujarnya.

Selain itu, Mentrans menekankan bahwa dalam operasi perdamaian, pendekatan yang digunakan berbeda dengan operasi tempur. Sebagai penutup, Menteri Iftitah berpesan agar seluruh prajurit TNI yang bertugas di Lebanon terus meningkatkan kewaspadaan dan disiplin terhadap prosedur.

“Di sana kita pergi bukan untuk berperang, tetapi untuk menjaga perdamaian. Senjata yang kita miliki bukan untuk menembak musuh, melainkan untuk membela diri. Kami berpesan agar betul betul menjaga kewaspadaan, jangan sampai lengah, dan ikuti aturan protokol yang telah ditetapkan oleh PBB,” ujarnya.

Dirinya juga menegaskan pentingnya pemahaman terhadap aturan pelibatan atau rule of engagement yang terus berkembang di lapangan.

Kementerian Transmigrasi menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada seluruh prajurit perdamaian Indonesia yang terus mengemban amanat konstitusi dalam menjaga ketertiban dunia, serta mendoakan keselamatan mereka dalam menjalankan tugas.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Menteri Transmigrasi Pasukan UNIFIL Personel TNI