Kisah Nian di Balik Perayaan Tahun Baru Imlek

M. Habib Saifullah | Minggu, 15/02/2026 05:05 WIB


Legenda makhluk mitos Nian dipercaya menjadi asal berbagai tradisi Tahun Baru Imlek, mulai dari penggunaan warna merah, petasan, hingga lampion sebagai simbol perlindungan dan harapan keberuntungan. Ilustrasi perayaan Imlek (FOTO: GETTY IMAGE)

JAKARTA - Nian merupakan makhluk mitologi yang cukup populer dalam budaya Tionghoa, khususnya terkait perayaan Tahun Baru Imlek. Kisah tentang Nian tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga memengaruhi berbagai tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang.

Dalam legenda, Nian digambarkan sebagai makhluk ganas menyerupai singa atau naga dengan tubuh besar, gigi tajam, dan kekuatan luar biasa. Makhluk ini diyakini tinggal di daerah terpencil, seperti pegunungan atau lautan, dan muncul sekali dalam setahun pada akhir tahun lunar.

Kehadirannya ditakuti masyarakat desa karena dipercaya menyerang permukiman, merusak hasil panen, memangsa ternak, bahkan mencelakai manusia, terutama anak-anak.

Dikisahkan seorang lelaki tua kemudian memberi petunjuk kepada penduduk desa untuk mengusir Nian. Ia mengetahui bahwa makhluk tersebut takut terhadap warna merah, suara bising, dan cahaya terang. Warga lalu memasang kain merah, menyalakan petasan, serta menggantung lentera merah di depan rumah hingga akhirnya Nian berhasil diusir.

Baca juga :
Disney PHK 1.000 Karyawan, Ini Alasannya

Sejak itu, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari perayaan Imlek. Warna merah, petasan, dan lampion kemudian dipercaya membawa keberuntungan sekaligus melindungi dari energi buruk.

Baca juga :
8 Dampak Ikan Sapu-Sapu terhadap Ekosistem Perairan

Nian juga dimaknai sebagai lambang rintangan dalam kehidupan. Keberhasilan mengalahkannya dipahami sebagai simbol mengatasi kesulitan dan memulai tahun baru dengan harapan baru.

Tradisi lain seperti membersihkan rumah sebelum Imlek turut dikaitkan dengan keinginan menyingkirkan kesialan dan menyambut keberuntungan.

Baca juga :
Hukum Langsung Salat Setelah Mandi Junub Tanpa Wudhu

Seiring waktu, Nian tidak hanya hadir dalam cerita rakyat. Pertunjukan tradisional seperti barongsai dan tarian naga dipercaya terinspirasi dari legenda tersebut.

Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga dianggap sarana menolak roh jahat dan mendatangkan keberuntungan selama perayaan Imlek. Selain itu, sosok Nian juga muncul dalam karya sastra, seni, hingga media modern sebagai simbol budaya Tionghoa.

Walau bersifat mitos, pesan yang terkandung dalam kisah Nian tetap relevan, yakni keberanian, kecerdikan, dan kebersamaan dalam menghadapi persoalan.

Dalam konteks Imlek, tradisi yang berakar dari legenda tersebut mengingatkan masyarakat pada nilai budaya seperti rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, serta harapan akan masa depan yang lebih baik.

Sebagian besar elemen utama perayaan Imlek berhubungan dengan cerita Nian. Dominasi warna merah, penggunaan petasan, dan lampion dimaknai sebagai upaya mengusir energi negatif sebagaimana dalam kisah tersebut. Kebiasaan makan malam bersama keluarga juga mencerminkan semangat kebersamaan yang ditekankan dalam legenda Nian.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
legenda nian mitos nian tradisi imlek asal usul imlek