Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) memberi sambutan dalam Seminar Kebangsaan Fraksi Partai Demokrat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif bertema Muda Berkarya, Ekonomi Berdaya, Indonesia Maju (Foto: Humas MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan teknologi dan ekonomi global, tetapi tampil sebagai pemain, pencipta, dan penggerak perubahan.
Ajakan itu disampaikan Ibas dalam Seminar Kebangsaan Fraksi Partai Demokrat bersama Kementerian Ekonomi Kreatif bertema “Muda Berkarya, Ekonomi Berdaya, Indonesia Maju”, Senin (7/9/2026).
Seminar tersebut mempertemukan unsur parlemen, pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, komunitas, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk membahas masa depan ekonomi kreatif, perkembangan teknologi, politik, dan demokrasi.
Menurut Ibas, Indonesia memiliki modal besar berupa generasi muda yang kreatif, inovatif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Potensi tersebut harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kreativitas bukanlah sekadar konten. Kreativitas adalah kekuatan ekonomi,” kata dia dalam keterangan resmi.
Ia mengatakan, tantangan generasi muda saat ini bukan semata-mata kekurangan ide. Justru, banyak anak muda memiliki gagasan besar tetapi ragu untuk memulai.
Karena itu, Ibas mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk berani mengubah ide menjadi karya dan karya menjadi nilai ekonomi.
“Ide harus bisa menjadi karya. Karya harus bisa menjadi nilai. Dan nilai harus menciptakan kesempatan. Inilah kerja dari ekonomi kreatif,” kata dia.
Ibas menilai perkembangan teknologi digital telah membuka kesempatan yang jauh lebih luas bagi generasi muda untuk membangun usaha dan menciptakan profesi baru.
Seseorang, katanya, tidak selalu harus memiliki modal besar untuk memulai. Kemampuan menggunakan laptop, kamera, keterampilan teknologi, seni, desain, maupun kemampuan membuat konten dapat dikembangkan menjadi usaha apabila dikerjakan secara serius dan berkelanjutan.
Ia juga mendorong anak muda untuk tidak terjebak dalam pola pikir bahwa sebuah gagasan hanya bisa diwujudkan setelah memiliki jabatan, posisi, atau modal besar.
“Jangan kita cukup berhenti berpikir besar, tetapi tidak mulai memulai. Setelah memulai, mari kita percepat agar apa yang kita jalankan bisa lebih banyak manfaatnya untuk masyarakat luas,” ujar Ibas.
Di sisi lain, Ibas turut menyoroti perkembangan kecerdasan artifisial atau AI menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang yang tidak dapat dihindari.
Ia menilai AI sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan akan terus memengaruhi cara belajar, bekerja, membuat konten, hingga menjalankan bisnis. Karena itu, generasi muda tidak boleh menganggap AI dan digitalisasi sebagai musuh.
“Kalau kita menganggap AI dan teknologi digitalisasi adalah musuh, tentunya kita tidak akan bisa bergerak lebih cepat dan lebih maju,” ujar Ibas.
Namun, ia mengingatkan agar pemanfaatan AI tetap disertai kemampuan berpikir kritis. Teknologi harus digunakan untuk memperkuat manusia, bukan membuat manusia berhenti belajar.
Menurutnya, manusia harus terus meningkatkan kompetensi agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
“Manusia harus terus beradaptasi dan belajar menggunakan AI agar tidak digantikan fungsinya oleh teknologi," ujar Ibas.
Di hadapan mahasiswa, Ibas juga mengingatkan agar generasi muda tidak apatis terhadap politik. Ia mengatakan, berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan anak muda pada dasarnya berkaitan dengan kebijakan publik dan proses politik.
Mulai dari pendidikan, lapangan pekerjaan, ekonomi digital, hak cipta, kebijakan AI hingga arah anggaran negara, semuanya membutuhkan keputusan politik.
“Jangan sampai kalian merasa politik ini bukan urusan kalian. Karena politik juga ada dalam kehidupan kalian sehari-hari,” ujar Ibas.
Menurutnya, partisipasi generasi muda dalam demokrasi diperlukan agar kebijakan publik dapat semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ia sekaligus menekankan bahwa demokrasi tidak mengharuskan setiap orang memiliki pemikiran yang sama. Perbedaan pilihan, gagasan, dan pandangan merupakan bagian dari demokrasi yang sehat selama tetap dibangun dengan etika dan penghormatan terhadap sesama.
Dalam forum tersebut, Ibas juga menekankan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari besarnya angka pertumbuhan ekonomi atau besarnya anggaran negara.
Ia mengatakan, yang lebih penting adalah apakah masyarakat mendapatkan pekerjaan, memiliki daya beli, memperoleh akses pendidikan dan kesehatan, serta mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraannya.
“Ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa besar pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan, tetapi apakah rakyat benar-benar merasakan manfaatnya,” ujar Ibas.
Ia meminta agar kebijakan pemerintah dan penggunaan anggaran terus dikawal sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat luas, termasuk UMKM dan pelaku ekonomi kreatif.
Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan pengalaman program Mitra Sehati, program pembinaan UMKM yang dikelola Persaudaraan Istri Anggota (PIA) Fraksi Partai Demokrat dan diketuai oleh Aliya Baskoro Yudhoyono.
Program tersebut telah berjalan sekitar satu dekade dan berkembang dari sekitar 300 UMKM menjadi lebih dari 600 UMKM binaan di berbagai wilayah Indonesia.
Pendampingan mencakup pengelolaan keuangan, pembukuan, permodalan, pemasaran, pengemasan produk, hingga perluasan akses pasar.
Menurut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, pengalaman Mitra Sehati menunjukkan pentingnya ekosistem yang mampu mendampingi pelaku usaha secara berkelanjutan, khususnya agar UMKM tidak hanya mampu bertahan tetapi juga berkembang dan memperluas pasar.
Ia mendorong agar kolaborasi antara pemerintah, parlemen, pelaku usaha, komunitas, serta generasi muda terus diperluas untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan lebih banyak kesempatan.
Semangat tersebut mendapat respons positif dari Merry Riana, entrepreneur, investor, dan content creator yang turut menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut.
Merry mengaku bersyukur dan senang dapat berpartisipasi dalam forum yang mempertemukan pemerintah, parlemen, pelaku ekonomi kreatif, dan generasi muda. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada EBY dan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya atas diskusi yang dinilainya berlangsung cair, substantif, dan dua arah.
“Bersyukur dan senang bisa menjadi narasumber serta ikut berpartisipasi dalam forum ini. Terima kasih dan apresiasi untuk Pak EBY dan Pak Menteri Ekraf atas diskusi yang cair, substantif, dan dua arah. Antusiasme mahasiswa memberi harapan besar bagi masa depan ekonomi kreatif Indonesia: Muda Berkarya, Ekonomi Berdaya, Indonesia Maju,” ujar dia.
Menurut Merry, antusiasme mahasiswa yang hadir memberikan harapan besar bagi perkembangan ekonomi kreatif Indonesia di masa depan.
Pesan lain yang disampaikan Ibas adalah pentingnya anak muda tidak sekadar bercita-cita menjadi pemimpin masa depan. Ia mendorong generasi muda mulai mengambil peran kepemimpinan sejak hari ini.
Menurutnya, kepemimpinan tidak selalu dimulai dari jabatan formal. Kepemimpinan dapat tumbuh melalui bisnis, komunitas, kampus, organisasi, desa, maupun gagasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya bermimpi menjadi future leader. Mari bermimpi dan menjalankannya sebagai current leader—pemimpin hari ini.”
Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Para peserta diharapkan membawa pulang gagasan, jejaring, keberanian, dan peluang kolaborasi baru.
Selain ekonomi kreatif dan generasi muda, Ibas juga mengingatkan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari bencana alam, perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi hingga dinamika geopolitik global.
Ia meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat mitigasi serta kesiapsiagaan bencana.
“Negara yang kuat bukan negara yang tidak pernah menghadapi bencana. Negara yang kuat adalah negara yang siap menghadapi bencana dan mampu melindungi rakyatnya.”
Ia menegaskan bahwa berbagai tantangan tersebut tidak boleh membuat Indonesia hanya menjadi penonton.
Indonesia harus mampu mengambil peluang di tengah perubahan dunia dengan memperkuat sumber daya manusia, inovasi, ekonomi kreatif, teknologi, serta partisipasi generasi muda.
Menutup sambutannya, Ibas menegaskan bahwa Indonesia tidak kekurangan anak pintar, orang kreatif, maupun generasi muda berbakat. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bergerak dan berkolaborasi.
“Ketika kreativitas bertemu dengan kebijakan, insyaallah kita akan melahirkan ekosistem. Dan ketika anak muda bertemu kesempatan, kita bisa melahirkan masa depan yang insyaallah akan cemerlang,” kata dia.
Ia mengajak generasi muda untuk menjadi bagian aktif dari pembangunan Indonesia.
“Mari kita maju, bergerak bersama-sama. Menjadi pemain, pencipta, dan penggerak untuk kemajuan bangsa. Muda berkarya, ekonomi berdaya, Indonesia maju,” ujar Ibas.