Ilustrasi kitab fikih Imam Syafii
Katakini.com - Mazhab Syafi`i merupakan salah satu dari empat mazhab fikih utama yang menjadi pegangan mayoritas masyarakat muslim di Indonesia.
Pendiri mazhab ini, Imam Asy-Syafi`i, merumuskan metode penggalian hukum yang sangat sistematis dengan menggabungkan teks dalil dan penalaran rasional.
Fondasi utama dalam fikih Mazhab Syafi`i senantiasa bersumber dari Al-Qur`an sebagai mukjizat dan hukum tertinggi umat Islam.
Allah SWT menegaskan kewajiban merujuk pada firman-Nya sebagaimana tertuang dalam Surah An-Nisa ayat 59 untuk menyelesaikan segala perselisihan.
Sumber hukum kedua yang menjadi pilar mazhab ini adalah Sunnah atau Hadis Nabi Muhammad SAW yang sahih.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Malik bahwa beliau meninggalkan dua hal yang membuat umat tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah-Nya.
Selain Al-Qur`an dan Hadis, Mazhab Syafi`i menetapkan Ijma` atau kesepakatan para ulama mujtahid sebagai dasar hukum ketiga.
Dasar hukum keempat yang digunakan adalah Qiyas, yaitu analogi hukum untuk peristiwa baru yang belum ada ketetapannya secara eksplisit.
Dalam masalah bersuci atau thaharah, Mazhab Syafi`i sangat ketat dalam membedakan antara air yang suci menyucikan dengan air yang terkena najis.
Mengenai ibadah shalat, mazhab ini menggarisbawahi pentingnya niat serta pemenuhan seluruh rukun secara tertib dan tuma`ninah.
Imam Asy-Syafi`i juga menekankan kehati-hatian dalam menentukan syarat sahnya muamalah dan transaksi jual beli agar terhindar dari risywah maupun riba.
Prinsip dasar kehati-hatian ini diambil dari kaidah hukum untuk menjaga kemurnian dan keabsahan setiap amal ibadah harian seorang muslim.
Keunggulan metodologi Mazhab Syafi`i terletak pada kerapian struktur hukumnya yang tertulis rapi dalam kitab monumental karya beliau, Al-Umm.
Mempelajari Fikih Syafi`i membantu umat Islam menjalankan syariat secara sistematis, berlandaskan ilmu, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dengan memahami ringkasan fikih ini, setiap mukmin diharapkan mampu beribadah dengan lebih khusyuk, mantap, serta sesuai tuntunan syariat.