Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VIII DPR RI terkait penanganan bencana di Kantor Bupati Deli Serdang, Sumatera Utara (Foto: MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI Dr. H. Abidin Fikri, menegaskan kepala sekolah dan pendidik memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menanamkan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI sejak dini. Sekolah tidak hanya dituntut membentuk peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan jati diri kebangsaan.
Hal tersebut disampaikan Abidin dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Swasta Kota Bekasi, di Bekasi, Selasa (1/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan pemahaman kebangsaan bagi para kepala sekolah yang memiliki posisi penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Abidin menjelaskan, Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh hanya dipahami sebagai materi pengetahuan. Nilai-nilai tersebut harus dihidupkan melalui budaya sekolah sehingga dapat menjadi bagian dari sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam paparannya, Abidin secara khusus menjelaskan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Pancasila merupakan pedoman hidup bangsa, fondasi kehidupan bernegara, sekaligus landasan filsafat negara. Karena itu, nilai-nilai Pancasila harus menjadi pijakan bagi peserta didik dalam berinteraksi, mengambil keputusan, menghargai orang lain, dan menghadapi berbagai perubahan zaman.
“Pancasila jangan berhenti menjadi hafalan. Pancasila adalah pedoman hidup, fondasi, dan landasan filsafat negara. Nilai-nilainya harus hadir dalam kehidupan anak-anak, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat,” ujar Abidin.
Menurutnya, implementasi nilai Pancasila di sekolah dapat diwujudkan melalui kegiatan yang sederhana tetapi nyata, seperti gotong royong, menghargai perbedaan, membiasakan musyawarah, berlaku adil, serta membangun kepedulian terhadap sesama. Dengan cara tersebut, peserta didik tidak hanya mengetahui nilai Pancasila, tetapi juga mengalami dan mempraktikkannya.
Abidin kemudian mengajak para kepala sekolah memahami Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, khususnya alinea keempat yang memuat tujuan negara. Empat tujuan tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Ia menekankan bahwa tujuan negara tersebut memiliki hubungan erat dengan tugas pendidikan. Ketika kepala sekolah dan guru mendidik peserta didik, mereka sesungguhnya ikut menjalankan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Ketika bapak dan ibu kepala sekolah mendidik anak-anak, sesungguhnya bapak dan ibu sedang ikut menjalankan amanat konstitusi, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, tugas pendidikan memiliki dimensi kebangsaan yang sangat kuat,” katanya.
Dalam sosialisasi tersebut, Abidin juga menjelaskan sejarah lahirnya Pancasila dan UUD 1945, mulai dari pembentukan BPUPKI, Panitia Sembilan, hingga proses perumusan dan pembentukan UUD 1945. Menurutnya, sejarah tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa dasar negara dan konstitusi lahir melalui proses panjang, pertukaran gagasan, perbedaan pandangan, dan kesepakatan para pendiri bangsa.
“Kalau generasi muda memahami bagaimana Pancasila dirumuskan dan bagaimana konstitusi kita lahir, mereka akan lebih menghargai bangsa ini dan memahami bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui proses yang tidak sederhana,” jelasnya.
Abidin menilai pemahaman sejarah tersebut sekaligus memperkuat semangat Bhinneka Tunggal Ika. Para pendiri bangsa memiliki latar belakang yang beragam, tetapi mampu menemukan titik temu untuk membangun Indonesia sebagai negara yang merdeka dan bersatu. Nilai tersebut perlu terus diwariskan kepada peserta didik agar keberagaman dipandang sebagai kekuatan bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks karena perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi. Dalam situasi tersebut, nilai-nilai Empat Pilar dapat menjadi fondasi bagi peserta didik untuk menyaring berbagai pengaruh dan menentukan sikap tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Karena itu, Abidin mendorong kepala sekolah dan guru menjadi teladan dalam menerapkan nilai Empat Pilar melalui proses pembelajaran maupun budaya satuan pendidikan. Pancasila sebagai pedoman hidup, UUD NRI Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional, NKRI sebagai rumah bersama, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat persatuan perlu hadir dalam kehidupan sekolah.
“Kami ingin kepala sekolah pulang dari kegiatan ini membawa semangat untuk menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuhnya generasi Pancasilais. Dari sekolah inilah karakter bangsa dibentuk,” pungkas Abidin.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut diikuti Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD Swasta Kota Bekasi. Hadir sebagai narasumber Anggota MPR RI Sonny T. Danaparamita, S.H., M.H., Ahmad Labib, S.H.I., M.H., Dr. H. MZ. Amirul Tamim, M.Si., dan Aanya Rina Casmayanti, S.E. Hadir pula Ketua K3S SD Swasta Kota Bekasi Abdul Latif, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi Condro Wibowo Mahartoyo Sukmo, S.E., M.M., serta pejabat terkait.