• News

Menag Nilai Kerukanan Jadi Salah Satu Modal Penting Indonesia Hadapi Dinamika Global

Agus Mughni Muttaqin | Senin, 20/07/2026 16:40 WIB
Menag Nilai Kerukanan Jadi Salah Satu Modal Penting Indonesia Hadapi Dinamika Global Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (Foto: Kemenag)

JAKARTA - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai kerukunan menjadi salah satu modal penting Indonesia dalam menghadapi dinamika global.

Menurutnya, pengalaman panjang bangsa Indonesia dalam merawat keberagaman memperkuat posisi Indonesia untuk membangun komunikasi yang terbuka, tenang, dan konstruktif di tengah perbedaan kepentingan antarnegara.

Menag mengatakan, prinsip politik luar negeri bebas aktif memberi ruang bagi Indonesia untuk menjaga komunikasi dengan berbagai pihak tanpa harus terikat pada pertentangan blok tertentu. Prinsip tersebut, menurutnya, membuat Indonesia dapat mengambil peran secara konstruktif di tengah situasi geopolitik yang dinamis.

“Kita selalu menempuh politik jalan tengah. Kita bisa dekat dan berkomunikasi dengan siapa pun karena politik bebas aktif sebagaimana dituntunkan dalam Undang-Undang Dasar 1945,” ujar Menag dilansir situs Kemanag, Senin (20/7).

Menag menjelaskan, politik jalan tengah bukan berarti Indonesia bersikap pasif terhadap persoalan global. Indonesia tetap dapat menyampaikan pandangan, membangun komunikasi, dan berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan dengan cara yang tidak memperkeruh keadaan.

Ia menekankan, keterlibatan Indonesia dalam pergaulan internasional perlu membawa suasana yang menenangkan. Dalam situasi konflik, menurutnya, pendekatan yang menyejukkan lebih dibutuhkan daripada sikap yang memperbesar jarak antarpihak.

“Konflik itu tidak bisa diselesaikan dengan bensin, tetapi harus disiram dengan air kesejukan,” tuturnya.

Menag mengatakan, salah satu kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan masyarakatnya beradaptasi dan hidup bersama dalam keberagaman. Dengan latar belakang agama, suku, bahasa, dan budaya yang sangat beragam, Indonesia tetap memiliki fondasi kebangsaan yang mempersatukan.

Menurut Menag, karakter tersebut tidak lepas dari falsafah Pancasila dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus menjaga dasar kebangsaan tersebut sebagai pijakan dalam merawat kerukunan dan membangun masa depan bangsa.

“Saya berharap generasi kita sekarang ini dan generasi akan datang betul-betul mempertahankan prinsip dasar NKRI dengan falsafah Pancasila,” kata Menag.

Kondisi kerukunan tersebut juga tercermin dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025. Berdasarkan hasil pengukuran nasional, IKUB 2025 tercatat sebesar 77,89 dan berada dalam kategori tinggi. Capaian ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama perlu terus dirawat sebagai modal sosial bangsa.

Menag juga menyinggung budaya maritim Nusantara sebagai salah satu akar karakter bangsa Indonesia. Budaya maritim, menurutnya, membentuk masyarakat yang terbuka, adaptif, dan terbiasa menerima kehadiran pihak lain sepanjang dilandasi niat baik.

Ia menyebut falsafah masyarakat pesisir yang memberi ruang bagi perahu untuk bertambat, air untuk dimanfaatkan, dan api untuk dibagi sebagai gambaran nilai keterbukaan dalam budaya Indonesia. Nilai tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam membangun komunikasi lintas perbedaan.

Menag mengajak generasi muda meneladani para pendiri bangsa dan tokoh organisasi kemasyarakatan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Kemampuan beradaptasi dan membangun kesepakatan di tengah perbedaan dinilai menjadi bagian penting dari karakter kebangsaan Indonesia.

Melalui kerukunan, politik bebas aktif, dan pengalaman hidup dalam keberagaman, Indonesia diharapkan dapat terus menjaga peran konstruktif dalam pergaulan internasional. Menag menilai, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan membangun komunikasi, merawat persaudaraan, dan menjaga ruang kebersamaan di tengah perbedaan.