Anggota Komisi III DPR RI Soedeson Tandra (Foto: Fraksi Partai Golkar)
JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Soedeson Tandra meminta Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri mengusut tuntas dugaan korupsi pengadaan pasokan batu bara yang diduga memicu pemadaman listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Indonesia.
Politikus Golkar ini menilai, penyidikan harus dilakukan secara profesional tanpa memandang jabatan maupun latar belakang pihak yang diduga terlibat. Ia juga mengingatkan agar tidak ada intervensi yang dapat menghambat proses penegakan hukum.
“Siapa pun dia, apakah pejabat, pengusaha, punya kedudukan tinggi atau rendah, kalau dia bermain-main dan merugikan negara triliunan rupiah, harus diberantas. Jangan ada yang menghalangi kerja penyidik,” kata Soedeson di Jakarta, Kamis (9/7).
Dia menilai, langkah tegas kepolisian penting dilakukan mengingat perkara tersebut berkaitan langsung dengan ketahanan energi nasional yang menjadi salah satu agenda prioritas dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ia menegaskan, pemberantasan korupsi di sektor strategis harus menjadi perhatian serius agar tidak mengganggu pelayanan publik maupun kepentingan masyarakat luas.
“Kami minta ini diusut tuntas. Siapa pun yang terlibat harus dimintai pertanggungjawaban hukum,” tegasnya.
Sebelumnya, tim gabungan Kortastipidkor Polri dan Polda Metro Jaya menggeledah sebuah kafe di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Rabu (8/7), yang diduga berkaitan dengan penyidikan tiga perkara besar, yakni dugaan korupsi pengadaan batu bara yang memicu blackout PLN, dugaan korupsi PT Asabri, dan PT Krakatau Steel.
Dalam penggeledahan tersebut, penyidik menemukan sebuah brankas yang disembunyikan di balik lemari. Dari dalamnya, polisi menyita sejumlah dokumen penting serta uang tunai dalam mata uang asing dengan nilai yang masih dalam proses penghitungan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan uang yang ditemukan terdiri atas mata uang Dolar Singapura dan Dolar Amerika Serikat dengan jumlah yang cukup besar.
“Memang terselubung di balik satu lemari, ada suatu brankas dan ini sudah dibuka. Ternyata memang ada beberapa dokumen dan penyimpanan uang dalam jumlah yang cukup besar, fantastis, dalam mata uang Singapore Dollar dan US Dollar,” ujar Budi.
Selain lokasi di Cipete, penyidik juga melakukan penggeledahan di total 12 lokasi berbeda yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya sebagai bagian dari pengembangan penyidikan kasus tersebut.