Ilustrasi foto khawatir berlebihan
Katakini.com - Fenomena overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan kini menjadi masalah kesehatan mental yang paling sering melanda generasi muda.
Banyak orang terjebak dalam labirin emosi negatif akibat terlalu mencemaskan masa depan yang belum terjadi atau menyesali masa lalu yang telah usai.
Dalam perspektif Islam, berpikir mendalam sebetulnya dianjurkan jika tujuannya adalah untuk mentadaburi kuasa Allah SWT atau bertafakur.
Namun, berpikir yang berujung pada kecemasan akut, keputusasaan, dan keraguan akan masa depan adalah bisikan tersembunyi dari setan.
Pikiran berlebih yang merusak ini sering kali bersumber dari hilangnya rasa ridha terhadap takdir dan kurangnya kedekatan spiritual.
Setan memanfaatkan celah pikiran yang kosong untuk menghembuskan rasa takut akan kemiskinan, kegagalan, dan skenario buruk kehidupan.
Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya agar segera menghentikan pikiran yang mulai melampaui batas dan menjurus pada keraguan iman.
"Setan mendatangi salah seorang di antara kalian lalu berkata, `Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?` sampai ia berkata, `Siapa yang menciptakan Tuhanmu?` Jika sudah sampai pada tahap itu, mintalah perlindungan kepada Allah dan berhentilah." (HR. Bukhari).
Hadist tersebut mengajari kita teknik stopping thought atau memutus rantai pikiran negatif sebelum merusak ketenteraman batin.
Langkah konkret pertama untuk mengatasi overthinking adalah dengan benteng zikir dan segera beristigfar memohon perlindungan-Nya.
Kedua, kita harus menumbuhkan sikap optimistis dengan meyakini bahwa setiap skenario yang Allah tetapkan adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.
Allah SWT secara tegas melarang hambanya merasa putus asa dan cemas berlebih, seperti yang tertuang dalam firman-Nya.
"...Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87).
Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa mencemaskan hari esok secara berlebihan sama saja dengan meragukan kemahaluasan rahmat Allah.
Setelah ikhtiar pikiran ditenangkan, serahkan segala kecemasan tersebut ke dalam sujud-sujud panjang kita di sepertiga malam terakhir.
Mari kita ubah energi overthinking yang melelahkan menjadi energi zikir dan doa yang menguatkan jiwa dalam menghadapi kenyataan hidup.