Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, membagikan bibit pohon pisang Cavendish ke masyarakat Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (15/8/2026). Foto: dpr/katakini
PONOROGO – Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menyerap aspirasi sekaligus melihat potensi ekonomi di Desa Bringinan, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Sabtu (15/8/2026).
Ia berdialog dengan masyarakat mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kondisi infrastruktur jalan hingga kebutuhan penerangan.
Politisi muda fraksi PDI Perjuangan itu juga mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal melalui pengembangan pisang Cavendish.
Ia memberikan dukungan bibit kepada masyarakat agar komoditas tersebut dapat menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga.
Menurutnya, model pemberdayaan seperti yang dilakukan Desa Bringinan menunjukkan bahwa penguatan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari program berskala besar.
Pemanfaatan lahan yang ada, bahkan dengan menanam beberapa batang pisang, dapat menjadi pintu masuk peningkatan pendapatan masyarakat.
Ia mengapresiasi Kepala Desa Bringinan, Barno, yang dinilai mampu melahirkan inovasi pemberdayaan di tengah keterbatasan anggaran desa.
"Dengan anggaran desa yang terbatas, Mbah Barno mampu menghadirkan gagasan yang segar dan out of the box. Pisang Cavendish menjadi salah satu solusi pemberdayaan di tengah kondisi ekonomi, sosial, dan politik hari ini," ujar Novita melalui keterangannya, Minggu (16/8/2026).
Ia menilai keberhasilan Bringinan mengembangkan Cavendish layak direplikasi di desa-desa lain di Ponorogo. Menurutnya, jika model tersebut dikembangkan secara terencana, dampaknya dapat menjadi pengungkit ekonomi yang lebih luas.
"Kalau ini bisa ditularkan dan dilaksanakan di desa-desa lain, tentu dapat menjadi salah satu pintu kebangkitan ekonomi Kabupaten Ponorogo," tegasnya.
Kepala Desa Bringinan, Barno, menjelaskan budidaya pisang Cavendish mulai dikembangkan sejak 2024. Pemerintah desa saat itu mengalokasikan sekitar Rp3,5 juta untuk pengadaan benih, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan kepada masyarakat.
Konsep yang dikembangkan sederhana, warga tidak harus memiliki lahan luas untuk memulai. Dengan menanam sekitar dua hingga lima batang, masyarakat sudah dapat memperoleh hasil tambahan ketika tanaman mulai berbuah.
Program tersebut kini mulai menunjukkan hasil. Pisang yang dibudidayakan warga telah menghasilkan buah dan memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
"Alhamdulillah di Bringinan berhasil. Dengan adanya program ini, ekonomi keluarga ikut meningkat," ujar Barno.