Ilustrasi foto suami istri sedang berdzikir
Katakini.com - Gelombang ketidakpastian ekonomi global sering kali memicu kecemasan massal yang menguras ketenangan batin masyarakat.
Kenaikan harga barang pokok dan bayang-bayang pemutusan hubungan kerja menjadi ujian berat bagi ketahanan iman setiap keluarga.
Di tengah situasi pelik ini, menjaga kesehatan mental dan spiritual menjadi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan.
Islam memberikan resep terbaik untuk menghadapi badai finansial, yakni dengan mengembalikan fokus hati kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.
Langkah awal yang paling fundamental adalah memperbanyak zikir dan mengingat Allah dalam setiap hembusan napas kita.
Sebab, ketenangan sejati tidak terletak pada tebalnya dompet, melainkan pada kelapangan dada yang dipenuhi oleh mengingat-Nya.
Allah SWT telah memberikan jaminan penenteram jiwa ini secara runtut di dalam firman-Nya yang mulia.
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra`d: 28).
Selanjutnya, kita perlu mengikis sifat kufur nikmat dengan cara selalu melihat orang-orang yang berada di bawah kita secara materi.
Rasulullah SAW mengajarkan formula ini agar kita terhindar dari rasa dengki dan selalu merasa cukup atas karunia yang ada.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim).
Ketika cara pandang ini diterapkan, krisis ekonomi tidak akan lagi terasa sebagai kiamat kecil, melainkan sebagai fase ujian yang pasti berlalu.
Sikap qana`ah atau merasa cukup inilah yang menjadi benteng pertahanan terakhir seorang muslim dari jebakan stres dan keputusasaan.
Keyakinan bahwa rezeki setiap makhluk telah diatur dan tidak akan pernah tertukar harus tertanam kuat di dalam sanubari.
Tugas kita hanyalah terus berikhtiar dengan cara yang halal sembari menyerahkan seluruh hasil akhir kepada ketetapan-Nya.
Mari kita hadapi masa sulit ini dengan memperkencang ibadah, memperluas sabar, dan mempertebal keyakinan bahwa pertolongan Allah amatlah dekat.