Ilustrasi kisah asal-usul kemunculan air zamzam (Foto: Unsplash/Wolfgang Hasselmann)
JAKARTA - Air Zamzam satu mata air paling ikonik dalam sejarah peradaban Islam. Keberadaan sumur yang tidak pernah kering selama ribuan tahun ini memiliki kaitan erat dengan kisah perjuangan Siti Hajar dan putra tunggalnya saat itu, Nabi Ismail AS, di tengah lembah Bakkah yang gersang.
Peristiwa ini bermula ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah wahyu untuk membawa istrinya, Siti Hajar, bersama Nabi Ismail yang masih bayi, dari tanah Syam menuju sebuah lembah tak berpenghuni di kawasan Makkah.
Berdasarkan catatan literatur sejarah klasik, tempat tersebut pada masa itu merupakan gurun pasir tandus tanpa sumber air, tanaman, maupun tanda-tanda kehidupan manusia lainnya.
Setelah membekali istri dan anaknya dengan kantong berisi kurma serta pelarutan air seadanya, Nabi Ibrahim AS harus kembali melanjutkan perjalanan tugas kerasulannya.
Di tengah situasi tersebut, Siti Hajar menerima ketetapan tersebut dengan keyakinan penuh bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkan mereka di tengah lembah sunyi tersebut.
Ujian mulai terjadi ketika persediaan air dan makanan yang dibawa habis dalam beberapa hari. Air susu ibu (ASI) dari Siti Hajar pun mulai mengering akibat dehidrasi, sementara Nabi Ismail kecil mulai menangis kelaparan dan kehausan.
Didorong oleh naluri seorang ibu untuk mencari bantuan atau sumber air, Siti Hajar mulai berjalan mencari tanda-tanda kehidupan di sekitar lembah.
Siti Hajar kemudian menaiki Bukit Shafa yang berada di dekatnya guna memantau keadaan sekitar, namun ia tidak melihat adanya air atau kafilah dagang yang melintas.
Ia lalu turun menuju lembah dan berlari-lari kecil menuju Bukit Marwah dengan harapan yang sama. Proses bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah ini dilakukan sebanyak tujuh kali.
Peristiwa inilah yang di kemudian hari diabadikan dalam syariat Islam sebagai salah satu rukun haji dan umrah yang disebut dengan ibadah Sai.
Setelah menyelesaikan putaran ketujuh di Bukit Marwah, Siti Hajar mendengar sebuah suara yang mengarahkan perhatiannya kembali ke tempat Nabi Ismail dibaringkan.
Menurut riwayat, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril ke tempat tersebut. Malaikat Jibril kemudian menghentakkan sayap atau tumitnya ke atas tanah gurun yang berada di dekat kaki Nabi Ismail yang sedang menangis.
Dari bekas hentakan tersebut, memancarlah air bersih dari dalam tanah dengan volume yang sangat melimpah.
Melihat air yang terus keluar, Siti Hajar bergegas membendung aliran tersebut dengan pasir dan batu sambil berucap "Zamzam", yang dalam bahasa Arab kuno berarti berkumpullah atau mengalirlah bersama.
Keberadaan mata air baru ini segera mengubah lanskap geografis dan sosial kawasan tersebut. Burung-burung gurun mulai berdatangan karena mencium keberadaan air, yang kemudian memicu perhatian kafilah dagang dari suku Jurhum yang sedang melintas.
Dengan izin Siti Hajar, suku Jurhum akhirnya memutuskan untuk menetap dan membangun permukiman di sekitar mata air tersebut, yang menjadi cikal bakal suku pertama yang menetap di lembah Mekkah.