Presiden Indonesia, Prabowo Subianto (Foto: Tangkapan Layar/TVR Parlemen)
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan terkait pertumbuhan ekonomi sebesar 35 persen selama tujuh tahun, namun tingkat kemiskinan meningkat dan kelas menengah menurun.
Prabowo mengaku, dirinya terpukul atas data yang diterima selama tujuh tahun terakhir. Di mana, selama tujuh tahun kali lima persen pertumbuhan perekonomian meningkat 35 persen.
“Harusnya kita tambah kaya 35 persen. Tapi apa yang terjadi? Sekali lagi saya mengajak kita jujur kepada diri kita sendiri dan kepada rakyat kita, ini mungkin menyakitkan bagi kita,” kata Prabowo, dalam rapat Paripurna DPR dengan agenda penyampaian Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027 oleh pemerintah, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/5).
“Saya merasa setelah terima data-data ini, seolah saya dipukul di hulu hati kita, selama tujuh tahun 35 persen perekonomian kita tumbuh, tapi rakyat kita yang miskin bertambah, dari 46,1 persen naik menjadi 49,5 persen, tiga persen naiknya. Kelas menengah turun, dari 22,1 persen menjadi 17,4 persen,” tegas Prabowo.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga mempertanyakan, kepada seluruh anggota dewan dan para pakar terkait pertumbuhan ekonomi 35 persen, namun tingkat kemiskinan malah meningkat dan kelas menengah menurun.
“Saya bertanya dihadapan saudara-saudara majelis yang terhormat, saya bertanya kepada semua partai politik, kepada semua Ormas, kepada semua pakar-pakar dan guru besar, bagaimana pertumbuhan ekonomi 35 persen tetapi kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat,” tanya Prabowo.
Menurut Prabowo, jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trayektori yang tidak tepat. Oleh sebab itu, jika sistem perekonomian ini terus dilakukan, maka kemungkinan bangsa Indonesia akan mengalami keterpurukan.
“Mungkin perbedaan kita dengan negara-negara seperti Meksiko, India, Filipina dan sebagainya adalah perbedaan sistemik. Kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur, tanpa kemakmuran kita tidak mungkin menjaga kedaulatan kita, bahwa kemungkinan besar kita menjadi bangsa yang lemah, menjadi bangsa yang takut,” kata Prabowo.