Ilustrasi penderita asma. (FOTO: OPNEWS)
JAKARTA - Selama ini, asma sering kali dipandang sebagai satu penyakit tunggal yang gejalanya seragam, sesak napas, batuk, dan mengorok (wheezing).
Akibatnya, ada anggapan keliru di masyarakat bahwa semua penderita asma bisa disembuhkan dengan satu jenis inhaler atau obat yang sama.
Nyatanya, dunia medis modern memandang asma sebagai penyakit heterogen. Artinya, asma memiliki berbagai jenis (fenotipe) dengan pemicu, mekanisme biologis, dan penanganan yang berbeda-beda.
Melansir dari Alodokter, berikut ini jenis-jenis asma yang perlu diketahui.
1. Asma alergi
Asma alergi merupakan jenis asma ini dipicu oleh paparan alergen, seperti debu rumah, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, atau makanan tertentu.
Gejala asma alergi sering memburuk setelah kontak dengan pemicu, misalnya saat berada di lingkungan berdebu atau pada musim tertentu. Penderita asma alergi juga biasanya memiliki riwayat alergi lain, seperti eksim atau rhinitis alergi.
2. Asma akibat aktivitas fisik (exercise-induced asthma)
Jenis asma lainnya adalah asma yang dipicu oleh aktivitas fisik. Gejalanya meliputi sesak napas, batuk, atau dada terasa berat yang muncul saat atau setelah berolahraga.
Kondisi ini dapat dialami oleh penderita asma maupun orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat asma. Keluhan umumnya muncul beberapa menit setelah aktivitas fisik dimulai atau setelah olahraga selesai.
3. Asma kerja (occupational asthma)
Asma kerja terjadi karena paparan zat tertentu di lingkungan kerja, misalnya debu, bahan kimia, asap industri, atau uap logam.
Gejalanya sering membaik ketika penderita sedang libur atau tidak berada di tempat kerja. Karena itu, penting untuk mengenali pemicu dan menggunakan alat pelindung diri bila diperlukan agar gejala lebih terkontrol.
4. Asma malam hari (nocturnal asthma)
Pada jenis asma ini, gejala lebih sering muncul pada malam hari atau saat tidur. Penderitanya bisa terbangun karena batuk, sesak napas, atau dada terasa berat. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur dan membuat tubuh mudah lelah saat beraktivitas keesokan harinya.
5. Sindrom tumpang tindih asma-PPOK (Asthma-COPD Overlap Syndrome/ACOS)
Sindrom tumpang tindih asma-PPOK terjadi ketika seseorang mengalami asma dan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis) secara bersamaan.
Kondisi ini lebih sering dialami oleh perokok aktif, mantan perokok, atau orang yang sudah lama memiliki gangguan pernapasan. Gejalanya dapat berupa sesak napas, batuk berkepanjangan, mengi, dan napas terasa berat saat beraktivitas.
Karena gejalanya mirip dengan penyakit paru lain, kondisi ini perlu ditangani dengan tepat agar fungsi paru tetap terjaga dan risiko kekambuhan bisa dikurangi.
6. Asma varian batuk (cough variant asthma)
Pada jenis asma ini, gejala utamanya berupa batuk kering kronis yang berlangsung lama tanpa disertai mengi atau sesak napas yang jelas.
Batuk biasanya lebih sering muncul pada malam hari, setelah olahraga, atau saat terkena udara dingin. Karena tidak menimbulkan gejala asma yang khas, kondisi ini sering tidak disadari sebagai asma.
Meski terlihat ringan, asma varian batuk tetap perlu ditangani dengan baik supaya keluhan tidak makin mengganggu aktivitas sehari-hari atau berkembang menjadi asma biasa.