China Pertanyakan Kedaulatan Ukraina: Paris, Kyiv, dan Negara Baltik Kecewa

Yati Maulana | Senin, 24/04/2023 06:06 WIB


China Pertanyakan Kedaulatan Ukraina: Paris, Kyiv, dan Negara Baltik Kecewa Sebuah kapal kargo berlayar di sebelah jembatan Krimea di Selat Kerch, Krimea, 14 Maret 2023. Foto: Reuters

JAKARTA - Prancis, Ukraina, dan negara-negara Baltik Estonia, Latvia, dan Lituania mengungkapkan kekecewaannya setelah duta besar China di Paris mempertanyakan kedaulatan negara-negara bekas Soviet seperti Ukraina.

Ditanya tentang posisinya tentang apakah Crimea adalah bagian dari Ukraina atau tidak, duta besar China Lu Shaye mengatakan dalam sebuah wawancara yang disiarkan di televisi Prancis pada hari Jumat bahwa secara historis itu adalah bagian dari Rusia dan telah ditawarkan ke Ukraina oleh mantan pemimpin Soviet Nikita Khrushchev.

"Negara-negara bekas Uni Soviet ini tidak memiliki status sebenarnya dalam hukum internasional karena tidak ada kesepakatan internasional untuk mewujudkan status kedaulatan mereka," tambah Shaye.

Prancis menanggapi pada hari Minggu dengan menyatakan "solidaritas penuh" dengan semua negara sekutu yang terkena dampak, yang katanya telah memperoleh kemerdekaan mereka "setelah puluhan tahun ditindas".

Baca juga :
Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi, Indonesia dan Malaysia Berisiko Paling Terdampak

"Khususnya di Ukraina, itu diakui secara internasional di dalam perbatasan termasuk Krimea pada tahun 1991 oleh seluruh komunitas internasional, termasuk China," kata seorang juru bicara kementerian luar negeri.

Baca juga :
Kemendikdasmen Selesaikan Revitalisasi 349 Sekolah di Sumbar

Juru bicara menambahkan bahwa China harus mengklarifikasi apakah komentar ini mencerminkan posisinya atau tidak.

Tiga negara Baltik dan Ukraina, semuanya dulunya bagian dari Uni Soviet, bereaksi dengan cara yang sama seperti Prancis.

Baca juga :
Menko Pangan Zulhas SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa

"Aneh mendengar versi absurd dari `sejarah Krimea` dari seorang perwakilan negara yang sangat teliti tentang sejarah seribu tahunnya," tulis Mykhailo Podolyak, seorang asisten presiden senior Ukraina, di Twitter.

"Jika Anda ingin menjadi pemain politik utama, jangan menirukan propaganda orang luar Rusia."

Kementerian luar negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Dubes China Kedaulatan Ukraina Uni Sofiet