
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan (Foto: dpr)
JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengimbau masyarakat menyikapi lonjakan harga plastik akibat dinamika global sebagai momentum perubahan pola konsumsi, termasuk dengan membiasakan membawa kantong belanja saat beraktivitas.
Menurutnya, kenaikan harga plastik berdampak pada sektor perdagangan, pelaku usaha kecil, hingga masyarakat sebagai konsumen.
“Harus diakui plastik sudah menjadi kebutuhan premier masyarakat sehari-harinya. Dan saat harga plastik melonjak, sektor domestik pun menjadi ikut terdampak besar,” kata Daniel Johan melalui keterangan secara tertulis, Senayan, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga plastik dipengaruhi gangguan rantai pasok global serta ketergantungan bahan baku impor yang mencapai 60 persen, dengan kenaikan harga hingga 30–80 persen per April 2026.
“Situasi ini tidak cukup dibaca hanya sebagai kenaikan biaya produksi atau beban tambahan bagi pelaku usaha, melainkan sebagai sinyal bahwa struktur ketergantungan nasional terhadap material berbasis fosil masih sangat tinggi dan rentan terhadap perubahan eksternal,” tuturnya.
Daniel menilai kondisi ini dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan plastik sekali pakai dan mendorong penggunaan material alternatif.
“Kenaikan harga plastik bisa menjadi momen bagi kita untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan memperkuat ekosistem penggunaan material alternatif yang lebih berkelanjutan,” kata Daniel.
Ia juga mendorong perubahan perilaku masyarakat, termasuk penggunaan barang yang dapat dipakai ulang.
“Bisa dimulai dengan masyarakat terbiasa membawa kantong belanja yang bisa digunakan hingga berkali-kali. Atau saat membeli makanan, bawa wadah yang bisa dicuci dan digunakan kembali,” imbau Daniel.
Selain itu, Daniel menekankan pentingnya penguatan ekonomi sirkular melalui pengelolaan sampah plastik, termasuk pengembangan bank sampah di tingkat masyarakat.
“Bank sampah tidak lagi cukup diposisikan sebagai program lingkungan semata, tetapi harus dibaca sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi bahan baku sekunder,” kata Daniel.
Ia menambahkan, penguatan sistem daur ulang dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sampah.
“Jika plastik bekas dapat kembali masuk ke rantai produksi secara lebih besar, maka ketergantungan terhadap bahan baku primer dapat ditekan dan ini dapat menjadi perluasan insentif bagi bahan pengganti plastik yang dapat diproduksi dalam negeri,” tambahnya.
Daniel juga mendorong dukungan kebijakan dan sistem dari pemerintah agar transisi menuju penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat berjalan optimal.
“Sebab masyarakat tidak cukup hanya diminta beradaptasi, tetapi perlu kepastian bahwa transformasi menuju kemasan ramah lingkungan memiliki dukungan regulasi, kepastian pasar, dan insentif investasi,” tutupnya.
Jum'at, 10/04/2026