Pemerintah Terus Kembangkan Penelitian Penyebab Gangguan Ginjal Akut

akhyar | Selasa, 01/11/2022 13:15 WIB


Pemerintah Terus Kembangkan Penelitian Penyebab Gangguan Ginjal Akut Juru Bicara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Mohammad Syahri ( Foto: Liputan6.com)

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan masih terus mengembangkan penelitian terhadap penyebab gangguan ginjal akut di Indonesia. 

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI Mohammad Syahril mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan penelitian untuk mengetahui apa  sebetulnya yang menyebabkan gangguan ginjal akut ini.

"Diduga penyebab gagal ginjal itu salah satunya keracunan, bisa dari makanan, minuman, dan obat-obatan," kata Mohammad Syahril di Jakarta, Selasa.

Kemenkes bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI masih mengembangkan sejumlah kemungkinan lain penyebab gangguan ginjal akut, katanya.

Baca juga :
Begini Butir Piagam Jakarta Sebelum Diubah Menjadi Pancasila

"Kandungan obat sirop harus betul-betul diteliti untuk mengetahui mana yang bisa menyebabkan keracunan pada ginjal. Setelah hasil penelitian keluar, BPOM punya tanggung jawab untuk mengevaluasi," katanya.

Baca juga :
3 Negara Kandidat Terkuat Juara Piala Dunia 2026

Di sisi lain, pemerintah sudah menjalankan beberapa kebijakan untuk mencegah penambahan korban gangguan ginjal akut.

Syahril mengatakan, pemerintah sudah menghentikan sementara penggunaan obat sirop untuk anak sebagai langkah cepat untuk mencegah kasus baru.

Baca juga :
Mendes Yandri dan Kepala BRIN Akan Implementasikan Hasil Riset ke Tingkat Desa

"Untuk yang sudah sakit, kami melakukan tindakan salah satunya dengan hemodialisa dan pemberian antidotum, zat penawar," ujarnya.

Dia mengatakan, 10 dari 11 pasien gangguan ginjal akut yang dirawat di RSCM semakin membaik setelah diberi Antidotum Fomepizole. Pemberian Fomepizole sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO).

Data menunjukkan pemberian Fomepizole pada pasien gangguan ginjal akut yang diduga disebabkan oleh intoksikasi memiliki efektivitas hingga di atas 90 persen.

"Tidak ada kematian dan tidak ada perburukan lebih lanjut. Anak tersebut sudah dapat mengeluarkan air kecil atau air seni. Dan dari hasil pemeriksaan laboratorium, kadar etilen glikol dari 10 anak tersebut sudah tidak terdeteksi zat berbahaya," ujarnya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Penelitian Gangguan Ginjal Akut Sirop