Mengenai Hak Asasi Manusia, Taliban Buka Ruang Diskusi

| Sabtu, 18/09/2021 10:07 WIB


Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan pada, Taliban membuka ruang untuk diskusi dan keterlibatan dalam masalah hak asasi manusia, termasuk hak perempuan dan minoritas. Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Filippo Grandi memberi isyarat saat berbicara dalam konferensi pers di Islamabad, Pakistan 17 September 2021. (Waseem Khan/Reuters)

Islamabad, katakini.com - Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Filippo Grandi mengatakan pada, Taliban membuka ruang untuk diskusi dan keterlibatan dalam masalah hak asasi manusia, termasuk hak perempuan dan minoritas.

"Ada ruang untuk diskusi dan keterlibatan tentang masalah ini," kata Grandi kepada wartawan dalam konferensi pers di Islamabad setelah mengakhiri kunjungannya ke Afghanistan, dikutip dari Reuters, Sabtu (18/9)

Pada kunjungan tersebut Grandi mengatakan, membahas masalah tersebut dengan berbagai otoritas Taliban. "Saya didorong oleh itu," tambahnya.

Dengan meningkatnya laporan pelanggaran hak asasi manusia dan hak sipil, berbagai kelompok dan negara telah mendesak badan-badan internasional untuk terlibat dengan Taliban.

Baca juga :
Bangun Ketahanan Industri Penerbangan, AirNav Indonesia Gelar NAFEF 2026

Grandi juga meminta masyarakat internasional untuk terus terlibat dengan Taliban untuk menyelamatkan Afghanistan dari bencana, dan untuk menyelamatkan kawasan itu dari ketidakstabilan.

Baca juga :
Waka MPR Bicara Pentingnya Kesiapsiagaan Masyarakat untuk Hadapi Ancaman Bencana

Sejak Taliban mengambil alih pada 15 Agustus, beberapa protes jalanan yang dipimpin oleh perempuan telah dibubarkan. Orang-orang telah ditahan dan dipukuli. Taliban telah berjanji untuk menyelidiki insiden tersebut.

Ketika mereka terakhir berkuasa dari 1996 hingga 2001, Taliban memberlakukan versi ketat hukum Islam dan menghukum orang dengan cambuk, amputasi, dan eksekusi di depan umum.

Baca juga :
Siapa Saja 7 Firaun Paling Terkenal di Mesir Kuno?

Aktivitas perempuan seperti pekerjaan dan pendidikan sangat dibatasi.

Sejak merebut kembali kekuasaan, Taliban telah mencoba menyampaikan pernyataan damai, tetapi bagi banyak orang masa depan masih belum pasti.

"Apakah mereka akan mengizinkan perempuan bekerja? Akankah mereka mengizinkan anak perempuan bersekolah? Bagaimana mereka akan memperlakukan minoritas?" Grandi mengatakan, menambahkan ini adalah pertanyaan, yang menjadi perhatian masyarakat global. (Reuters)

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Taliban Hak Asasi Manusia Filippo Grandi UNHCR