Pastikan Lancar, Ditjen Hubla Terus Pantau dan Evaluasi Program Isolasi Terapung

Tim Cek Fakta | Kamis, 19/08/2021 20:13 WIB


Ada enam kapal milik PT Pelni yang dimanfaatkan untuk program isolasi terapung. Kementerian Perhubungan memfungsikan KM Umsini milik PT Pelni untuk tempat isolasi mandiri (Isoman) masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan, yang positif terpapar Covid-19. Foto: hubla/katakini.com

JAKARTA – Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program isolasi terapung pasien Covid-19 yang memanfaatkan kapal-kapal PT Pelni yang sedang portstay.

“Ada enam kapal milik PT Pelni yang dimanfaatkan untuk program isolasi terapung. Saat ini KM Umsini yang sudah beroperasi sejak awal Agustus lalu atas permintaan Wali Kota Makassar,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Agus H. Purnomo dalam diskusi daring bersama Forum Wartawan Perhbungan (Forwahub) tentang”`Dukungan Transportasi Laut dalam Penanganan Pandemi Covid-19” di Jakarta, Kamis (19/8/2021).

Agus mengatakan, Kemenhub mendukung penuh program kerja sama yang dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk dengan pemerintah daerah ini.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Mugen Sartoto menjelaskan, saat ini sedikitnya ada enam kapal Pelni yang dimanfaatkan untuk program isolasi terapung dengan pola sharing pembiayaan.

Baca juga :
Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi, Indonesia dan Malaysia Berisiko Paling Terdampak

“KM Umsini telah resmi digunakan menjadi tempat isolasi apung sejak Senin, 2 Agustus 2021 yang dapat menampung hingga 785 pasien Covid-19 OTG (orang tanpa gejala) dan gejala ringan,” kata Mugen.

Baca juga :
Kemendikdasmen Selesaikan Revitalisasi 349 Sekolah di Sumbar

Kemudian KM. Bukit Raya yang menurut rencana akan diperasikan Jumat (20/8/2021). Kapal ini berkapasitas 463 bed (450 bed untuk pasien dan 13 bed untuk nakes), yang akan ditempatkan di Pelabuhan Belawan untuk melayani Masyarakat Kota Medan.

Disusul KM. Tatamailau dengan kapasitas 458 bed (448 bed untuk pasien dan 10 bed untuk nakes), yang akan ditempatkan di Pelabuhan Bitung untuk melayani Masyarakat Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa Utara.

Baca juga :
Menko Pangan Zulhas SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa

Lalu KM. Sirimau dengan kapasitas 460 bed (449 bed untuk pasien dan 11 bed untuk nakes), yang akan ditempatkan di Pelabuhan Sorong untuk melayani Masyarakat Kota Sorong.

Selanjutnya KM. Tidar dengan kapasitas 929 bed (873 bed untuk pasien dan 56 bed untuk nakes), yang akan ditempatkan di Pelabuhan Jayapura untuk melayani Masyarakat Kota Jayapura.

Kapal keenam adalah KM Lawit dengan kapasitas 437 bed (419 bed untuk pasien dan 18 bed untuk nakes), yang ditempatkan di Lampung.

"Tiap-tiap tempat tidur antar pasien isolasi mandiri telah diberikan sekat (recovery capsule) dengan pemisahan berdasarkan jenis kelamin. Jumlah tersebut sesuai dengan kebijakan 50 persen dari kapasitas kapal sehingga protokol kesehatan di atas kapal tetap terlaksana," kata Mugen.

Beberapa fasilitas penunjang di kapal juga telah dipersiapkan guna mendukung pelaksanaan isolasi mandiri, seperti penyediaan kamera pengawas (CCTV), poliklinik, jogging track. Selain itu juga top deck sebagai ruang terbuka di atas kapal dapat dimanfaatkan oleh pasien isolasi mandiri sebagai lokasi untuk berolahraga maupun berjemur.

Direktur Utama PT Pelni, Insan Purwarisya Lumban Tobing mengatakan, Pelni memiliki 10 kapal yang terpaksa portstay akibat terdampak Covid-19.

"Kapal-kapal yang port stay adalah kapal yang tidak ada fasilitas untuk muatan kontainer,” kata Insan.

Selama ini Pelni mendapatkan penugasan dari Kemenhub untuk melayani angkutan penumpang dengan pembiayaan dalam bentuk Public Service Obligation (PSO). Sehingga baik kapal-kapal itu beroperasi maupun tidak, Pelni tetap mendapatkan dana PSO dari Kemenhub.

Sementara, Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan Pomanto mengatakan, kapal isolasi terpung memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap penurunan jumlah pasien covid-19 di Makassar.

“Sebelumnya warga Makassar yang terpapar Covid-19 sempat menyentuh angka 700 orang per hari. Sekarang hanya sekitar 200 orang saja,” kata Ramdhan.

Tingkat kesembuhan pasien Covid-19 yang isolasi mandiri di kapal juga relatih cepat membaik.

“Awalnya kami targetkan 10 hari bebas Covid-19, tetapi sekarang baru 5 hari isolasi sudah sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga di rumah,” ujarnya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Isolasi terapung Pleni Ditjen Hubla