Warga Muslim dan Yahudi AS Buka Puasa Virtual Bersama

Akhyar Zein | Rabu, 05/05/2021 09:01 WIB


“Saya kira sebagian pesannya adalah pengorbanan, kesabaran dan empati, Rabbi Jeremy Schneider dan Imam Mahmoud Sulaiman berpelukan saat acara bertajuk

Katakini.com- Bulan Ramadhan ini, sebagian warga di Los Angeles, California, melangsungkan buka puasa bersama secara virtual dengan kelompok yang tidak biasa. Adam Fakhri di Muslim-Jewish Partnership for Change, satu kelompok kerjasama antar-keyakinan umat beragama mengatakan.

“Kami mengumandangkan adzan Maghrib yang menandai saat berbuka di tiga sinagog berbeda di Los Angeles. Pertama, saya kira ini sangat indah dan sangat kuat; kedua, hal ini juga menunjukkan rasa persatuan dan bahwa kita semua satu komunitas," katanya.

Buka puasa virtual ini disponsori oleh NewGround : A Muslim-Jewish Partnership for Change.Tahun ini dilangsungkan secara virtual dengan menghadirkan Wali Kota Los Angeles Eric Garcetti, yang memberikan sambutan pembuka. Acara ini juga mencakup kunjungan virtual ke dapur sebuah keluarga imam dan keluarga rabbi untuk menyaksikan bagaimana mereka mempersiapkan makanan berbuka kesukaan keluarga. Namun para peserta buka puasa virtual ini mengatakan buka puasa dan Ramadhan sebenarnya lebih dari sekedar soal makanan dan berpuasa.

“Saya kira sebagian pesannya adalah pengorbanan, kesabaran dan empati," kata Adam.

Baca juga :
Menko Pangan Zulhas SPPG Diingatkan Wajib Serap Produk Pangan Desa

Juga memperkuat ikatan dengan orang lain, termasuk yang berasal dari agama berbeda, ujar David Weiner, seorang peserta Yahudi.

Baca juga :
Lestari Moerdijat Sebut Guru Perempuan Tentukan Arah Pembangunan Bangsa

“Kita mulai dengan hubungan. Kita mulai dengan menceritakan kisah pribadi kita, mengatasi identitas kita sendiri," kata David.

Dan juga mengakui perbedaan yang ada, tambahnya. Berbagi saat pribadi akan membantu menjembatani kesenjangan dalam isu-isu yang memecah belah, seperti kesulitan hubungan diantara Palestina dan dan Israel yang kerap memisahkan warga Muslim dan Yahudi.

Baca juga :
Kemenko PM Bangun Sistem Pelindungan PMI Berbasis Desa di Lampung Timur

“Hal ini juga memberi saya kosakata yang berbeda dan serangkaian keahlian soal bagaimana mengekspresikan diri saya dan bagaimana melakukan percakapan yang sulit," kata David.

Interaksi secara terus menerus lewat acara-acara seperti ini, baik secara langsung maupun virtual, mengajar para peserta untuk saling mendengar satu sama lain.

“Kita mungkin sering setuju untuk tidak setuju, tetapi ini merupakan bagian dari proses saling memahami satu sama lain dan benar-benar dapat berempati dengan orang lain dan pandangan mereka.”

Keahlian yang berguna bagi semua orang, apapun latar belakang atau agama mereka.(BBG)

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
buka puasa bersama tiga sinagog Yahudi