Jejak Sejarah Diselamatkannya Nabi Musa dari Firaun di Hari Asyura

M.Habib Saifullah | Rabu, 24/06/2026 06:01 WIB


Hari Asyura merupakan hari kemenangan iman tumbangnya Firaun di Laut Merah dan selamatnya Nabi Musa AS bersama Bani Israil Ilustrasi mukjizat Nabi Musa.

JAKARTA - Bagi sebagian besar umat Muslim, tanggal 10 Muharram atau yang karib disebut Hari Asyura identik dengan anjuran ibadah puasa sunah.

Namun, jika kita menarik benang merah sejarah jauh ke belakang—ribuan tahun sebelum masa Nabi Muhammad SAW, hari ini adalah hari proklamasi kemenangan iman tumbangnya Firaun di Laut Merah dan selamatnya Nabi Musa AS bersama Bani Israil.

Bagaimana runtunan peristiwa besar ini terjadi hingga akhirnya diabadikan menjadi salah satu hari paling dihormati dalam kalender Islam?

Peristiwa ini bermula dari puncak penindasan Firaun (Ramses II / Merneptah, menurut sebagian besar sejarawan) terhadap Bani Israil di Mesir. Atas perintah Allah SWT, Nabi Musa AS mengumpulkan pengikutnya dan melakukan eksodus—pelarian massal meninggalkan Mesir—secara sembunyi-sembunyi pada waktu malam.

Baca juga :
350 Jemaah Haji Indonesia Wafat, Istithaah Kesehatan Bakal Diperketat

Ketika fajar menyingsing, Firaun menyadari hilangnya para budak dan pekerja mereka. Dengan murka, ia mengumpulkan pasukan militer terbaiknya lengkap dengan kereta perang berkuda.

Baca juga :
Pengadilan AS Tolak Gugatan Pemerintahan Trup Soal Los Angeles

Al-Qur`an menggambarkan situasi ini dengan sangat dramatis dalam Surah Asy-Syu`ara: "Maka Firaun mengirimkan orang ke kota-kota (Mesir) untuk mengumpulkan (pasukannya)... Dan sesungguhnya mereka benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat kita marah." (QS. As-Syu`ara: 53-55).

Pengejaran intensif itu mencapai puncaknya di pesisir Laut Merah (Teluk Suez/Aqaba). Posisi Bani Israil benar-benar terjepit secara geografis, di depan mereka terbentang lautan dalam yang mustahil diseberangi, sementara di belakang mereka debu berterbangan akibat deru ribuan derap kaki kuda pasukan Firaun yang siap membantai.

Baca juga :
DPR Kawal Penyelesaian Status Kawasan Pemukiman Masyarakat Pasangkayu

Logika manusia saat itu runtuh. Keputusasaan melanda Bani Israil hingga mereka berseru, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul"

Di sinilah letak perbedaan antara logika keduniawian dan keyakinan tauhid. Nabi Musa AS dengan keteguhan iman yang kokoh menjawab "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku."

keyakinan itu terucap, wahyu Allah turun. Nabi Musa diperintahkan untuk memukulkan tongkatnya ke permukaan laut.Seketika, hukum fisika air lumpuh.

Laut Merah terbelah menjadi dua belas jalur kering, dengan dinding-dinding air yang berdiri kokoh di kanan dan kiri layaknya gunung yang megah.

Nabi Musa dan seluruh pengikutnya segera berlari menyeberangi dasar laut yang mengering tersebut.

Firaun yang dilingkupi kesombongan membutakan akal sehatnya. Bukannya beriman melihat mukjizat tersebut, ia justru memacu kudanya masuk ke dalam jalur belahan laut untuk mengejar Bani Israil.

Namun, skenario Allah telah final. Begitu kaki orang terakhir dari Bani Israil menapak di daratan seberang, Allah mengembalikan air laut seperti semula.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Hari Asyura 10 Muharram Nabi Musa Kisah Firaun