Waka MPR Dorong Komitmen Bersama Wujudkan Emansipasi Perempuan Masa Kini

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 23/04/2026 15:26 WIB


Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, upaya mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini, emansipasi perempuan di masa kini butuh dukungan dan komitmen bersama Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Foto: MPR)

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, upaya mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini, emansipasi perempuan di masa kini butuh dukungan dan komitmen bersama. Hal demikian sebagai bagian penentu arah perjalanan bangsa. 

"Bagaimana nilai-nilai perjuangan RA Kartini di masa kini dapat betul-betul diwujudkan. Saya kira untuk kebebasan berpikir bagi perempuan saja, rasanya masih jauh dari kenyataan," kata Lestari Moerdijat.

Hal tersebut disampaikannya saat membuka diskusi daring bertema Hari Kartini: Antara Perayaan Simbolik dan Keberlanjutan Gagasan Emansipasi yang diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar 12 , Rabu (22/4).

Menurut Lestari, perlu komitmen bersama yang kuat agar mampu mewujudkan emansipasi perempuan di masa kini.

Baca juga :
KPK Dalami Bukti Aliran Fee Proyek DJKA ke Sudewo

"Emansipasi itu bukan semata boleh belajar, tetapi juga harus mampu mengantarkan perempuan untuk mewujudkan cita-citanya," ujar Rerie, sapaan akrab Lestari. 

Baca juga :
Setan Merah Tegaskan Tak Akan Jual Bruno Fernandes

Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat bahwa pekerjaan rumah untuk mewujudkan nilai-nilai yang diperjuangkan RA Kartini masih sangat banyak. 

Terpenting, kata Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, setiap momentum Hari Kartini harus menjadi pengingat bagi kita, apa saja yang sudah dilakukan untuk menghidupkan dan mewujudkan gagasan RA Kartini di masa kini. 

Baca juga :
KPK Periksa 3 Tersangka Korupsi Pengadaan Iklan BJB

"Bagaimana kita secara bersama menemukan akar masalah yang mampu memangkas kesenjangan gender dan menentukan arah perjalanan bangsa secara bersama," pungkas Rerie.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Periode 1993-1998 - Penyusun dan Penulis buku Trilogi Kartini, Wardiman Djojonegoro mengungkapkan bahwa peringatan Hari Kartini sejatinya sudah sejak 1915.

Ketika itu, ujar Wardiman, RA Kartini meninggal pada usia 25 tahun dan meninggalkan surat-surat yang ditulis semasa hidupnya.

Sahabat RA Kartini, Abendanon mengumpulkan surat-surat itu untuk ditulis menjadi buku guna dijual dan hasilnya untuk membangun sekolah perempuan agar mandiri. Akhirnya, tambah dia, tiga sekolah perempuan berhasil dibangun di Semarang, Bogor, dan Yogyakarta. 

"Emansipasi di masa itu diperjuangkan dengan meningkatkan harkat perempuan Indonesia melalui mendirikan sekolah," ujar Wardiman. 

Sekarang, ujar Wardiman, upaya peningkatan harkat perempuan ditentukan antara lain dengan berapa banyak partisipasi perempuan di sektor ekonomi, politik, pengembangan sumber daya manusia, dan sektor di luar pendidikan.

"Saat ini, semakin kompleks faktor-faktor yang harus dipenuhi untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan," ujar Wardiman.

Sementra itu, Ketua Umum PB PGRI Unifah Rosyidi berpendapat bahwa di Indonesia saat ini mengalami lompatan-lompatan yang luar biasa dalam pemberdayaan perempuan, melalui afirmasi kebijakan.

Pada organisasi PGRI ini, ujar Unifah, tidak ada yang membeda-bedakan dalam memilih ketua organisasi. Namun, ujar dia, bila tidak ada afirmasi melalui kebijakan, tidak bisa diwujudkan juga perempuan memimpin.

Pada 20 tahun terakhir, ujar Unifah, PGRI di 22 dari 36 provinsi,  30%-nya dipimipin oleh perempuan. Menurut dia, ketua PGRI di tingkat kabupaten/kota mayoritas perempuan.

"Perempuan itu bisa menjadi pemimpin untuk mewujudkan tujuan yang telah disepakati bersama," ujar Unifah.

Ketika RA Kartini menulis surat yang dikirimkan kepada sahabatnya, menurut dia, sejatinya dia sedang membagikan pemikirannya kepada dunia luar. Unifah berharap, gagasan RA Kartini dapat terus berkembang agar mampu tercipta kesetaraan yang dicita-citakan.

Ketua Umum Badan Pusat Wanita Tamansiswa Nyi Tri Yuliyanti Setyasari mengungkapkan bahwa emansipasi yang digagas RA Kartini sejatinya dilanjutkan oleh Nyi Hadjar Dewantara, istri pendiri Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara.

Organisasi Wanita Taman Siswa, ujar Nyi Tri Yuliarti, didirikan pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta oleh Nyi Hadjar Dewantara.

Menurut Nyi Tri Yuliarti, Nyi Hadjar juga berjuang di sektor pendidikan. Ketika itu, tambah dia, Taman Siswa disebut sebagai sekolah liar oleh penjajah Belanda.

Nyi Hadjar menghadapi ancaman itu, ujar Nyi Tri Yuliarti, dengan mengajak para pamong datang ke rumah masyarakat untuk mengajari para siswa di rumah masing-masing.

"Nyi Hadjar Dewantara melawan penjajah Belanda melalui jalan pendidikan dan merupakan salah satu inisiator Kongres Perempuan pertama di Yogyakarta di tengah kungkungan sosial dari penjajah Belanda," ujarnya.

Menurut Nyi Tri Yuliarti, emansipasi memberi hak bagi perempuan untuk terus tumbuh sebagai individu dan memberi ruang sebagai pembelajar sepanjang hayat. 

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info MPR Lestari Moerdijat Emansipasi Perempuan Forum Diskusi Denpasar