Hati-hati! Ini Dua Penghalang Utama Mengikuti Sunnah Nabi SAW

Vaza Diva | Minggu, 18/01/2026 14:05 WIB


Mengikuti sunnah Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus dibangun di atas dua fondasi utama, yaitu ilmu yang benar dan niat yang lurus. Ilustrasi - dua penghalang ini bisa buat jadi penghalang Sunnah Nabi Muhammad SAW (Foto: ISTOCK PHOTO)

JAKARTA - Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan dalam Majmū‘ al-Fatāwā (15/93) bahwa terdapat dua penghalang terbesar yang membuat seseorang tidak istiqamah mengikuti Rasulullah SAW, yaitu ketidaktahuan terhadap kebenaran dan rusaknya tujuan atau niat.

Kedua faktor ini kerap berjalan beriringan dan saling menguatkan dalam menjerumuskan seseorang dari jalan sunnah.

Penghalang pertama adalah kebodohan, yang dimaksud bukan sebatas buta huruf, melainkan ketidakpahaman terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan sunnah yang sahih. Tanpa ilmu, seseorang mudah mengira suatu amalan benar, padahal menyelisihi tuntunan Nabi SAW. Karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk bertanya kepada ahlinya ketika tidak mengetahui suatu perkara.

Allah SWT berfirman:

Baca juga :
Pertamina Gelar Pasar Murah di Cianjur, Paket Sembako Rp211.000 Jadi Rp30.000

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Baca juga :
Kajati Jabar dan Kajari Subang Tinjau Progres Pembangunan Pelabuhan Patimban

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti sunnah tidak mungkin terwujud tanpa ilmu. Ketidaktahuan sering menjadi pintu masuk munculnya bid’ah atau pengabaian terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa disadari oleh pelakunya.

Baca juga :
Ketua DPR Harap RUU PPRT Dapat Akhiri Kekerasan-Diskriminasi terhadap PRT

Penghalang kedua yang tidak kalah berbahaya adalah rusaknya tujuan atau niat. Ada orang yang telah mengetahui kebenaran sunnah, namun enggan mengamalkannya karena motivasinya bukan untuk mencari ridha Allah, melainkan demi mempertahankan tradisi, fanatisme kelompok, atau kepentingan duniawi. Dalam kondisi ini, ilmu tidak lagi membuahkan ketaatan.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi prinsip agung dalam Islam bahwa nilai dan kebenaran amal—termasuk dalam mengikuti sunnah—sangat ditentukan oleh keikhlasan hati. Amal yang lahir dari niat yang rusak tidak akan mengantarkan pelakunya kepada kebenaran, meskipun secara lahir tampak sesuai.

Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang menyimpang meskipun memiliki pengetahuan, karena mereka lebih mengikuti hawa nafsu daripada petunjuk Allah.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)

Hawa nafsu sering merusak niat dan menutup hati dari kebenaran, sehingga seseorang menolak sunnah yang jelas hanya karena tidak sejalan dengan keinginannya atau kebiasaan yang telah mengakar dalam dirinya.

Ikuti Update katakini.com di

Google News: https://bit.ly/4qCOURY
Terbaru: https://katakini.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/katakinidotcom/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD :
Info Keislaman Sunnah Nabi Rasulullah SAW kitab Al Qur`an