• News

Jika Terpilih, Pacquiao Janji Kejar Harta Tidak Sah Milik Marcos

Yati Maulana | Jum'at, 04/02/2022 18:21 WIB
Jika Terpilih, Pacquiao Janji Kejar Harta Tidak Sah Milik Marcos Calon Presiden Filipina yang juga senator, Manny Pacquiao, menantang para pejabat untuk mengungkapkan harta mereka. Foto: Reuters

JAKARTA - Ikon tinju dan senator Filipina, Manny Pacquiao bersumpah bahwa jika terpilih sebagai presiden Filipina dia akan memperkuat upaya untuk memulihkan miliaran dolar kekayaan yang hilang sejak jatuhnya kediktatoran Marcos, sebagai bagian dari platform anti-korupsinya.

Komentar Pacquiao adalah hujatan pada pesaingnya yang menjadi favorit sejak awal masa kampanye ppemilihan presiden di Filipina, Ferdinand Marcos Jr. Keluarga Marcos dituduh menjarah sekitar $ 10 miliar atau sekitar Rp 143 triliun selama dua dekade pemerintahan mendiang ayahnya, membelanjakannya untuk perhiasan, real estat dan sejumlah karya seni termasuk milik Pablo Picasso dan Claude Monet.

Pacquiao mengatakan Komisi Presidensial untuk Pemerintahan yang Baik (PCGG), yang memperoleh kembali kekayaan $3,41 miliar dari keluarga Marcos dan rekan-rekan mereka dalam 33 tahun, akan diberdayakan untuk memulihkan lebih banyak jika dia memenangkan pemilihan 9 Mei.

"Kami akan memperkuat PCGG dan uang yang menjadi milik pemerintah harus diberikan kepada pemerintah," kata Pacquiao dalam forum calon presiden, di mana Marcos, lebih dikenal sebagai "Bongbong", tidak hadir karena bentrok jadwal.

"Alasan mengapa negara kita miskin adalah karena pencuri di pemerintahan dan itulah mengapa kita perlu memberantas korupsi," kata Pacquiao, seorang senator dan mantan juara delapan divisi, seperti dilansir Reuters.

Tim kampanye Marcos tidak segera menanggapi permintaan komentar. Dalam wawancara radio 25 Januari, Marcos mengakui keputusan pengadilan terhadap keluarga terkait aset dan akan menghormati hukum dan keputusan pengadilan.

Seperti Pacquiao, calon presiden lainnya, Wakil Presiden Leni Robredo, walikota Manila Francisco Domagaso, Senator Panfilo Lacson dan Leody de Guzman, seorang pemimpin buruh, semuanya berjanji untuk membasmi korupsi pemerintah dan melindungi uang publik.

Meskipun digulingkan dalam pemberontakan 1986 dan diusir ke pengasingan, keluarga Marcos tetap menjadi kekuatan yang kuat di Filipina, dengan loyalis di seluruh birokrasi dan elit politik dan bisnis. Keluarga itu kembali ke Filipina pada 1990-an dan Marcoses telah memegang jabatan politik sejak itu, termasuk gubernur, anggota kongres, dan senator.