• News

Sri Lanka Akan Bayar Utang Minyak Pakai Daun

Yati Maulana | Jum'at, 24/12/2021 08:34 WIB
Sri Lanka Akan Bayar Utang Minyak Pakai Daun Ilustrasi daun teh

Jakarta - Sri Lanka berencana untuk menyelesaikan pembayaran utangnya sebesar 251 juta dolar dengan barter daun teh. Utang tersebut adalah pembayaran bea impor minyak ke Iran. Langkah itu akan diambil Sri Lanka akibat menipisnya cadangan devisa negara tersebut.

Salah seorang menteri, Ramesh Pathirana mengatakan negaranya berharap untuk mengirim teh senilai 5 juta dolar ke Iran setiap bulan untuk melunasi utangnya.

Sri Lanka mengalami krisis utang dan valuta asing yang parah, yang diperparah dengan hilangnya pendapatan turis selama pandemi. Seorang anggota dewan teh negara itu mengatakan ini adalah pertama kalinya teh dibarter untuk melunasi utang luar negeri.

Pathirana mengatakan, metode pembayaran tidak akan melanggar sanksi PBB atau Amerika, karena teh dikategorikan sebagai makanan atas dasar kemanusiaan, dan tidak ada bank Iran yang masuk daftar hitam yang akan terlibat.

"Kami berharap dapat mengirim teh senilai 5 juta dolar setiap bulan untuk membayar Iran atas pembelian minyak yang tertunda sejak empat tahun terakhir," katanya kepada Reuters.

Kementerian Perkebunan mengatakan, skema yang direkomendasikan akan menghemat mata uang asing yang sangat dibutuhkan Sri Lanka karena penyelesaian ke Iran akan dilakukan dalam mata uangRrupee Sri Lanka melalui penjualan Teh Ceylon.

Namun juru bicara Asosiasi Pekebun Ceylon yang mencakup semua perusahaan perkebunan besar di Sri Lanka, Roshan Rajadurai, mengatakan mode transaksi ini adalah solusi sepihak oleh pemerintah. "Itu belum tentu menguntungkan eksportir karena kami akan dibayar dalam rupee, menghindari pasar bebas, dan tidak memberikan nilai nyata bagi kami," kata Roshan Rajadurai.

Sri Lanka dilaporkan harus memenuhi sekitar 4,5 miliar dolar dalam pembayaran utang tahun depan, dimulai dengan pembayaran obligasi negara internasional senilai 500 juta dolar pada Januari. Namun, data terbaru bank sentral menyebutkan, cadangan devisa negara itu menyusut menjadi 1,6 miliar dolar pada akhir November.

Gubernur Bank Sentral Ajith Nivard Cabraal pada awal bulan ini mengatakan bahwa Sri Lanka yakin dapat ddengan mulus membayar semua utang negara yang jatuh tempo pada 2022. Sri Lanka menghasilkan sekitar 340 juta kilogram teh setiap tahun. Tahun lalu mereka mengekspor 265,5 juta kilogram teh, dengan pendapatan 1,24 miliar dolar pada tahun 2020.

Hampir lima persen penduduk Sri Lanka bekerja di industri bernilai miliaran dolar, dengan memetik daun teh di lereng gunung dan mengolah teh di pabrik perkebunan.