Ilustrasi listrik tenaga surya
Katakini.com – Pemerintah berupaya meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 dengan bertumpu pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Menurut pemerintah, pembangunan PLTS lebih cepat dan mudah jika dibandingkan dengan sumber energi lain.
"Ini ada di manapun, tidak terlalu sulit untuk studi kelayakan membangun PLTS, apalagi untuk di atas atap (roof top)," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana dalam diskusi Central Java Solar Day 2021 secara virtual.
PLTS menurut dia juga menjadi solusi dalam mempercepat rasio elektrifikasi melalui konversi PLT Diesel ke PLT EBT.
Dadan menjelaskan, kondisi bauran EBT dalam bauran energi nasional di akhir 2020 telah mencapai 11,5 persen atau separuh dari target yang ditetapkan.
Pencapaian ini harus sejalan dengan komitmen pencapaian penurunan gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.
"Kita hanya punya waktu 5 tahun untuk menuju ke sana, jadi kalau EBT tidak tercapai, pasti target penurunan gas rumah kaca pun tidak akan tercapai," kata dia.
Pemerintah menurut dia tengah menyusun grand strategi energi nasional untuk jangka menengah hingga 2035, yaitu dengan fokus mengurangi atau menghilangkan impor dari energi bahan bakar minyak.
“Kemudian kita menggeser dari yang sifatnya fosil ke energi terbarukan,” ujar Dadan.
Dalam perencanaan tersebut, PLTS akan mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan energi di masa mendatang melalui pemberian insentif khusus.
“Kami ada program PLTS terapung, dalam RUPTL (Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik) sekarang sedang disusun dan kami akan memasukkan semua waduk yang ada di Jawa," jelas dia.
Melalui pemanfaatan PLTS, pemerintah berharap dapat meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi dengan berpijak kepada energi bersih.(Anadolu Agency)