Ia menyambut baik berbagai keputusan dan langkah strategis yang ditetapkan dalam Pernyataan Penutup KTT itu terutama mengenai rekonsiliasi hubungan diplomatik antara Saudi Arabia dengan negara-negara anggota lainnya, khususnya dengan Qatar. "Kami ucapkan selamat kepada Khadimul Haramain Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Alu Su’ud, dan juga Yang Mulia Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al Thani, atas terjadinya rekonsiliasi dan islah," kata Wahid, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis. Ia juga mengapresiasi kebijakan produktif yang disepakati demi menyongsong masa depan yang lebih baik, menuju kemajuan yang lebih berarti bagi seluruh negara di kawasan Teluk serta negara-negara sahabatnya di seluruh dunia.
Ia juga mengapresiasi Kuwait yang berperan sebagai mediator dalam mendamaikan konflik diplomatik di Teluk sehingga tercaoai rekonsiliasi melalui KTT, yang telah berjalan lancar. "Tinggalan berharga dari Amir Kuwait, almarhum Syaikh Sabah Ahmad Al-Sabah sebagai Emir Kuwait terdahulu, ternyata tetap dapat dilanjutkan dengan baik di tangan Emir Nawaf bin Ahmad Al-Sabah, emir Kuwait yang baru," ujarnya. Ia menegaskan, rakyat Indonesia senantiasa mengharapkan kondisi kawasan Teluk yang stabil, aman, serta berdaulat, diharapkan hubungan Indonesia dari tingkat parlemen, pemerintah, hingga rakyatnya, dengan negara-negara kawasan teluk selalu terjalin dengan baik.
Menurut dia, rakyat Indonesia selalu memperhatikan perkembangan di kawasan Teluk dan bersyukur atas hasil KTT yang berlangsung baru-baru ini yang hadirkan rekonsiliasi serta islah.
"Dengan demikian lembaran lama telah ditutup dan menandakan dibukanya lembaran-lembaran baru yang mencerahkan bagi kawasan Teluk yang lebih maju, aman, dinamis, serta berdaulat," katanya. Ia juga mengapresiasi sikap negara-negara GCC yang konsisten mendukung Palestina dengan tetap mengakui serta memperjuangkan Palestina sebagai negara merdeka yang berdaulat dengan beribukota di Yerusalem Timur. Selain itu menurut dia negara-negara GCC juga mengutuk tindakan Israel yang senantiasa mengubah identitas dan status quo Yerusalem melalui penggusuran warga Palestina, aneksasi, dan pemukiman-pemukiman ilegal.





















