Pembukan Simposium dan Musyawarah Nasional Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) di Bandung, pada Kamis (22/10). (Foto: Ist)
BANDUNG - Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (ASAFI) menyoroti tantangan pendidikan Islam dalam melahirkan generasi ilmuwan dan pemikir Muslim yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam pembukaan Simposium dan Musyawarah Nasional (Munas) ASAFI 2026 di Bandung, pada Kamis (22/10).
Ketua ASAFI, Prof. Kholid Al-Walid, mempertanyakan mengapa pendidikan Islam yang didukung puluhan ribu madrasah dan pesantren serta jutaan santri dan siswa belum mampu melahirkan tokoh sekaliber Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Biruni pada era sekarang.
“Yang hilang adalah sesuatu yang lebih mendasar, yaitu cara berpikir,” kata Kholid dalam sambutannya.
Menurut dia, persoalan pendidikan Islam tidak cukup dijelaskan melalui faktor kolonialisme, ekonomi, dan politik. Kurikulum, cara pandang, serta paradigma pendidikan juga perlu dievaluasi agar mampu mendorong perkembangan tradisi intelektual di kalangan umat Islam.
Kholid Al Walid menilai, salah satu persoalan mendasar terletak pada semakin terbatasnya pembelajaran logika dan filsafat di madrasah maupun pesantren.
Padahal, kedua bidang tersebut berperan penting dalam melatih kemampuan berpikir kritis, menguji argumen, serta membangun teori dan pengetahuan baru.
Ia mencontohkan Al-Ghazali yang mempelajari filsafat secara mendalam sebelum mengajukan kritik terhadap sejumlah pemikiran para filsuf.
Perdebatan intelektual antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, menurutnya, merupakan gambaran tradisi pemikiran yang perlu dihidupkan kembali.
“Kritik yang sah selalu lahir dari penguasaan, bukan dari ketidaktahuan,” ujarnya.
Kholid juga menyoroti pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum yang masih memengaruhi sistem pendidikan Islam.
Menurut dia, pemisahan tersebut membuat ilmu agama dan sains seolah-olah berdiri dalam dua kerangka yang berbeda, padahal keduanya dapat dipelajari dalam pandangan yang utuh.
Ia mengingatkan bahwa Al-Ghazali menempatkan kedokteran dan ilmu hitung sebagai bagian dari fardhu kifayah, yakni kewajiban kolektif umat Islam.
Karena itu, pengembangan sains dan teknologi semestinya menjadi bagian dari tanggung jawab pendidikan Islam.
“Padahal artinya sebaliknya, jika umat ini kekurangan dokter, fisikawan, dan insinyur yang andal, itu adalah dosa kolektif kita, bukan sekadar masalah pasar tenaga kerja,” kata Kholid.
Dalam sambutannya, Kholid turut mengkritisi pendekatan integrasi-interkoneksi ilmu yang selama ini dikembangkan di sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam.
Meski mengapresiasi upaya tersebut, ia menilai pendekatan itu belum sepenuhnya menyentuh persoalan mendasar mengenai hakikat ilmu, alam, manusia, dan sumber pengetahuan.
Sebagai alternatif, ia menawarkan paradigma tauhid yang menempatkan keesaan Tuhan sebagai landasan dalam memahami realitas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ia juga merujuk pemikiran Seyyed Hossein Nasr tentang scientia sacra atau pengetahuan sakral, yang menempatkan ilmu dalam kerangka metafisis, etis, dan spiritual.
Kholid menegaskan bahwa pendekatan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap sains modern, melainkan upaya mengkritisi pandangan yang menganggap segala sesuatu hanya dapat dinilai melalui ukuran empiris.
“Tauhid bukan hanya ajaran tentang keesaan Tuhan yang kita ucapkan dalam shalat. Tauhid adalah prinsip epistemologis,” ucapnya.
Untuk mendorong perubahan, Kholid mengusulkan penguatan kembali pembelajaran logika dan filsafat di madrasah serta pesantren, penyusunan kurikulum dengan tauhid sebagai poros, pembentukan guru yang memahami ilmu lintas disiplin, pengembangan tradisi riset, serta perubahan ukuran keberhasilan pendidikan dari sekadar hafalan menuju kemampuan bernalar dan menghasilkan karya.
Ia juga mengingatkan bahwa filsafat tidak seharusnya hanya menjadi mata pelajaran di program studi tertentu, tetapi perlu menjadi bagian dari bangunan pemikiran dalam kurikulum berbagai fakultas dan program studi di Indonesia.
“Satu hal yang perlu dicatat: filsafat mestinya bukan sekadar pelajaran, tetapi bangunan dari setiap kurikulum fakultas dan prodi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat International Office UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Munir, M.A., yang hadir mewakili rektor dan dekan Fakultas Ushuluddin, menyatakan bahwa filsafat Islam dan akidah masih relevan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Munir, kemajuan teknologi tetap membutuhkan landasan moral dan etika agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Karena itu, filsafat dan agama tetap memiliki peran dalam menjawab tantangan zaman.
Munir juga menyoroti keberlanjutan program studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), terutama setelah banyak program studi meraih akreditasi unggul.
Capaian tersebut perlu diikuti dengan peningkatan jumlah mahasiswa, penguatan institusi, serta upaya memperluas penerimaan masyarakat terhadap bidang filsafat Islam.
“Kalau AFI tidak disukai orang, maka itu tanggung jawab kita untuk membalik opini tersebut, bukan tanggung jawab yang lain,” kata Munir.
Ia turut mengingatkan pentingnya kerja keras dalam membangun tradisi keilmuan.
Dengan merujuk pemikiran Muhammad Iqbal, Munir menyampaikan bahwa Al-Qur`an lebih menekankan perbuatan daripada sekadar gagasan.
Lebih lanjut, ia juga menilai pemikiran Al-Farabi dapat menjadi pelajaran dalam menempatkan tauhid sebagai titik tolak pengembangan ilmu.
Sementara itu, Ketua Panitia Simposium dan Munas ASAFI 2026, Maman Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti 58 peserta dari 25 program studi AFI, baik jenjang sarjana maupun magister.
Maman mengatakan, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan akademik, tetapi juga menjadi momentum pertanggungjawaban pengurus lama dan pemilihan ketua baru ASAFI.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat memperkuat kolaborasi antarprogram studi dalam menghadapi berbagai persoalan pendidikan dan pengembangan kelembagaan.
“Kita punya tatanan yang sama. Tentu kalau berkolaborasi, tantangan yang ada akan dilewati dengan sangat cepat, sedangkan tanpa kolaborasi, kita bisa pusing sendiri,” ujar Maman.
Melalui simposium dan Munas tersebut, ASAFI diharapkan dapat memperkuat peran program studi Aqidah dan Filsafat Islam dalam pengembangan tradisi intelektual, sekaligus merumuskan langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan melahirkan generasi pemikir Muslim yang mampu menjawab tantangan zaman.