Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah. Foto: dpr/katakini.com
JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah menilai Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menghadapi tantangan besar untuk membenahi institusi Polri, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan penegakan hukum dan memperkuat integritas personel.
Menurut Said, pergantian kepemimpinan di tubuh Polri harus menjadi momentum untuk membangun budaya kerja yang lebih profesional, transparan, dan dekat dengan masyarakat.
Said menyoroti dua hal penting dari pernyataan Suyudi saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi III DPR RI. Keduanya berkaitan dengan pembenahan tata kelola pelayanan kepolisian serta upaya membangun kepercayaan publik.
“Bagi korban, laporan polisi adalah harapan negara hadir. Pelapor berhak mengetahui perkembangan yang dapat dibuka tanpa harus mencari tahu melalui akses informal kepada penyidik,” kata Said mengutip pernyataan Suyudi dalam keterangannya, Senin (12/10).
Menurut Said, komitmen tersebut menjadi pekerjaan mendesak karena masyarakat masih menghadapi persoalan dalam mengakses pelayanan penegakan hukum. Kondisi itu turut memunculkan ungkapan no viral, no justice, yang menggambarkan persepsi bahwa perkara baru mendapat perhatian serius setelah menjadi viral.
Karena itu, Said menilai Kapolri perlu menerjemahkan komitmen pembenahan tersebut ke dalam langkah konkret. Salah satunya melalui program percepatan atau quick win yang berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan dan penegakan disiplin anggota.
Ia juga mendorong penguatan fungsi pengawasan internal melalui Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) dan Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam).
Sementara dari sisi eksternal, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) perlu dilibatkan lebih intensif, khususnya dalam pengawasan terhadap perwira tinggi Polri.
Pengawasan, lanjut Said, juga harus menjangkau satuan kepolisian di daerah, termasuk polsek dan polres, dengan melibatkan partisipasi masyarakat.
“Penegakan disiplin polisi menjadi titik kuncinya,” tegasnya.
Said berpandangan, pengawasan yang efektif bukan sekadar bertujuan memberikan sanksi kepada anggota yang melanggar. Lebih dari itu, mekanisme tersebut harus mendorong para pimpinan satuan wilayah untuk meningkatkan kapasitas dan mutu pelayanan kepada masyarakat.
Selain pembenahan pelayanan, Said menyoroti pentingnya membangun hubungan yang lebih kuat antara polisi dan masyarakat.
Hal itu sejalan dengan gagasan Suyudi bahwa kewibawaan polisi tidak harus ditunjukkan melalui sikap keras, tetapi melalui kompetensi, integritas, pengendalian diri, dan ketegasan yang proporsional.
Menurut Said, kepercayaan masyarakat merupakan modal utama bagi kepolisian dalam menjalankan tugas.
Dengan keterbatasan jumlah personel dibandingkan luasnya tanggung jawab yang harus dijalankan, Polri membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat.
Kepercayaan tersebut, kata dia, tidak cukup dibangun melalui slogan atau doktrin organisasi. Polri harus membuktikannya lewat perubahan nyata dalam pelayanan, perilaku anggota, serta konsistensi dalam menegakkan aturan.
Said juga menekankan pentingnya keteladanan dari pucuk pimpinan. Kapolri bersama para pejabat utama Mabes Polri harus mampu menjadi contoh dalam membangun budaya organisasi yang profesional dan berintegritas.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengangkat Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. DPR RI kemudian memberikan persetujuan atas pengangkatan tersebut.
Pergantian kepemimpinan itu turut diikuti penunjukan Komjen Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri. Said menilai kombinasi kepemimpinan tersebut berpotensi menghadirkan pembaruan dengan tetap memanfaatkan pengalaman perwira senior.
Tak lama setelah pengangkatannya, Suyudi juga merotasi 88 perwira tinggi Polri, termasuk 19 kapolda. Langkah itu menjadi bagian awal penataan jajaran strategis untuk membangun tim kerja yang solid.
Namun, Said mengingatkan bahwa rotasi jabatan baru merupakan langkah awal. Pembenahan struktural dan kultural Polri membutuhkan program berkelanjutan serta komitmen kuat dari seluruh jajaran.
Ia berharap Suyudi dapat memanfaatkan momentum pergantian kepemimpinan untuk menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Menjadi kepala kepolisian bukanlah puncak karier, tetapi puncak tanggung jawab,” ujar Said mengutip pernyataan Suyudi.
Said pun berharap Kapolri baru mampu menjawab tantangan tersebut dengan memperkuat profesionalisme, integritas, dan kepercayaan publik terhadap Polri.