Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) (Foto: Humas MPR)
JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI mengajak mahasiswa dan profesional muda Indonesia di Australia untuk terus belajar, beradaptasi menghadapi perubahan zaman, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam Final Keynote Speech pada INFOKAN 2026 bertema “Passing Wisdom, Inspiring Tomorrow”, yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Western Australia (PPIA WA) dan PPIA Curtin.
Berbicara secara daring di hadapan mahasiswa Indonesia, profesional muda, serta komunitas akademik di Australia Barat, ia membagikan refleksi perjalanan hidup dan pendidikannya sebagai alumni Curtin University, Australia.
Sebelum mengemban tanggung jawab di bidang pelayanan publik dan kebijakan nasional, ia menempuh pendidikan di Australia hingga meraih gelar Bachelor of Commerce dengan peminatan Finance and E-Commerce.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal pesannya kepada generasi muda bahwa pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang memperoleh gelar, melainkan juga membangun pola pikir kritis, kemampuan bekerja sama, ketangguhan menghadapi tekanan, dan kesiapan untuk terus berkembang.
“Universitas bukan hanya tempat untuk mendapatkan jawaban yang benar. Universitas juga mengajarkan kita bagaimana berpikir, bekerja bersama orang lain, menghadapi tekanan, dan terus melangkah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Merefleksikan pengalamannya sebagai mahasiswa di Perth pada awal 2000-an, ia mengingatkan bahwa perjalanan setelah kelulusan justru membuka babak baru yang penuh tantangan, kesempatan, dan tanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan waktu keberhasilan masing-masing. Karena itu, mahasiswa tidak perlu mengukur nilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.
Menurutnya, generasi muda perlu berfokus pada pengembangan keterampilan, pembentukan karakter, keberanian belajar dari kesalahan, serta konsistensi untuk terus bergerak maju dengan tujuan yang jelas.
“Life is an eternal university. Hidup adalah universitas yang abadi,” pesannya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri untuk memperluas wawasan, membangun persahabatan lintas budaya, serta memperkuat jaringan profesional yang dapat menjadi jembatan kolaborasi antara Indonesia dan Australia.
Membawa perspektif dari latar belakang pendidikannya di bidang keuangan dan perdagangan elektronik, ia menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia ekonomi dan bisnis akibat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, menjalankan usaha, mengakses informasi, dan menciptakan nilai ekonomi. Perubahan tersebut membuka peluang besar, tetapi sekaligus menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan memahami tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Ia menekankan bahwa kemampuan menghasilkan informasi dengan cepat tidak lagi cukup untuk menjamin seseorang memiliki nilai tambah di dunia kerja.
“Yang membuat kita bernilai bukan sekadar kemampuan menghasilkan lebih banyak informasi. Yang penting adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, memverifikasi kebenaran, memahami orang lain, menggunakan pertimbangan yang baik, dan mengubah informasi menjadi tindakan yang bermakna,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI perlu diimbangi perhatian terhadap masa depan pekerjaan, perlindungan privasi, etika, dan pemerataan akses terhadap peluang.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan yang tersedia saat ini, tetapi juga mengembangkan kemampuan belajar dan beradaptasi untuk menghadapi profesi serta tantangan yang akan muncul di masa depan.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua MPR RI, ia menegaskan pentingnya menjadikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan dalam memandang arah pembangunan nasional.
Menurutnya, kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecepatan inovasi, atau penguasaan teknologi. Pembangunan harus dinilai dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat, memperluas kesempatan, meningkatkan kualitas hidup, dan menjaga martabat manusia.
Ia mengajak generasi muda untuk mengajukan pertanyaan mendasar dalam melihat berbagai persoalan nasional: apakah pertumbuhan ekonomi telah membuka kesempatan yang lebih luas? Apakah kemajuan teknologi dapat diakses secara adil? Dan apakah pembangunan benar-benar membantu masyarakat memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, serta pekerjaan yang layak?
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai konstitusi harus hadir dalam upaya melindungi bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berkontribusi terhadap perdamaian dunia.
“Konstitusi memberikan arah bagi perjalanan bangsa kita. Tanggung jawab bersama adalah menerjemahkan cita-cita tersebut menjadi kenyataan,” ujarnya.
Tanggung jawab itu, lanjutnya, bukan hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga menjadi bagian dari peran masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan generasi muda.
Dalam pidatonya, ia turut mengajak mahasiswa Indonesia di Australia untuk menjaga kecintaan terhadap Tanah Air tanpa menutup mata terhadap tantangan yang masih harus diselesaikan.
Menurutnya, mencintai Indonesia tidak berarti menganggap seluruh persoalan telah selesai. Nasionalisme justru perlu diwujudkan melalui kebanggaan atas pencapaian bangsa, kejujuran dalam melihat kekurangan, serta keberanian untuk ikut memperbaikinya.
Ia menekankan bahwa generasi muda dapat belajar dari negara lain tanpa kehilangan identitas nasional. Perbedaan pandangan juga tidak seharusnya menghilangkan komitmen bersama untuk menjaga persatuan Indonesia.
Dalam konteks kehidupan multikultural di Australia Barat, ia mendorong mahasiswa untuk menghormati perbedaan budaya, agama, bahasa, dan latar belakang, sembari tetap berpegang pada prinsip yang diyakini.
Pesan tersebut dipertegas melalui ungkapan Jawa, “Ojo pedhot oyot”, yang berarti jangan sampai terputus dari akar. Bagi mahasiswa Indonesia di luar negeri, pesan ini menjadi pengingat agar tetap menjaga hubungan dengan keluarga, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan di tengah keterbukaan terhadap dunia internasional.
Lebih jauh, ia mengajak mahasiswa agar tidak menunggu sampai menduduki jabatan tinggi untuk mulai memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Mahasiswa bidang keuangan dapat membantu usaha kecil mengambil keputusan finansial yang lebih baik. Mereka yang mempelajari teknologi dapat mengembangkan solusi digital yang memperluas akses masyarakat terhadap layanan.
Mahasiswa bisnis dapat membangun usaha yang bertanggung jawab dan menciptakan lapangan kerja, sementara mereka yang mendalami kebijakan publik dapat membantu menerjemahkan gagasan menjadi solusi yang dapat diterapkan.
Menurutnya, kontribusi tidak harus selalu dimulai dari proyek besar. Perubahan dapat berawal dari kemampuan mendengarkan, memahami persoalan, bekerja dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda, serta menerapkan ilmu untuk menjawab kebutuhan nyata.
Ia menyebut semangat gotong royong sebagai nilai penting yang dapat memperkuat kolaborasi lintas disiplin, generasi, dan negara.
“Jadilah bagian dari solusi. Mulailah dari apa yang Anda ketahui, dari orang-orang di sekitar Anda, dan dari persoalan yang bisa Anda bantu selesaikan,” pesannya.
Menutup pidatonya, ia mendorong penguatan jaringan alumni Perth dan komunitas alumni Indonesia–Australia agar hubungan yang terbangun selama masa studi dapat berlanjut menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat nyata.
Ia mengajak para alumni untuk terus berbagi peluang, bertukar pengetahuan, membimbing generasi berikutnya, dan membangun kerja sama yang mendukung kemajuan kedua negara.
Ia juga mengapresiasi PPIA WA dan PPIA Curtin atas penyelenggaraan INFOKAN 2026 yang mempertemukan mahasiswa dan profesional muda untuk berbagi pengalaman serta memperluas jejaring.
Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri seharusnya tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Pengetahuan, persahabatan, dan jaringan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Mengakhiri pidatonya, ia berpesan agar generasi muda terus memiliki cita-cita besar, bekerja keras, tidak mudah menyerah, terbuka terhadap dunia, dan tidak melupakan akar kebangsaannya.
“Bersatu, berpikir, bergerak, berdampak. Masa depan bukan sekadar sesuatu yang kita tunggu. Masa depan adalah sesuatu yang ikut kita ciptakan,” tutupnya.
Melalui INFOKAN 2026, semangat “Passing Wisdom, Inspiring Tomorrow” diharapkan terus hidup dalam bentuk pertukaran pengetahuan, kolaborasi lintas negara, dan kontribusi nyata generasi muda bagi Indonesia yang lebih maju, adil, dan sejahtera.