Warga Iran berbelanja di Tehran Bazaar di Teheran, Iran, 26 Maret 2025. WANA via REUTERS
JAKARTA - Nilai tukar rial Iran terus merosot pada Sabtu (3/10), seiring pengumuman bank sentral yang menyuntikkan dana hingga USD2 miliar untuk menopang mata uang tersebut.
Kondisi ini terjadi saat ekonomi negara itu tengah menghadapi sanksi dan blokade laut dari Amerika Serikat (AS).
Dolar AS dijual di kisaran 2,688 juta rial, naik dari 2,632 juta rial pada Jumat, menurut situs pelacakan pasar bebas bon-bast.com, sementara alanchand.com melaporkan angka 2,695 juta rial per dolar.
Televisi pemerintah melaporkan bahwa bank-bank pemerintah mulai menjual hingga USD2 miliar untuk menopang mata uang tersebut, yang telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam setahun terakhir.
Dengan tingkat inflasi yang menembus lebih dari 70 persen, kehidupan warga biasa menjadi makin sulit. Mereka tidak mampu lagi membeli kebutuhan pokok atau membayar sewa karena blokade AS memutus urat nadi keuangan negara, yakni ekspor minyak.
Banyak warga Iran yang mencari tempat aman untuk melindungi tabungan mereka kini beralih memborong dolar, mata uang asing yang kuat, atau emas.
Mehdi Darabi, asisten gubernur bank sentral urusan valuta asing, menyalahkan anjloknya rial sebagian akibat apa yang disebutnya sebagai prediksi palsu para pejabat AS mengenai keruntuhan ekonomi Iran.
"Ada anggapan bahwa ekonomi Iran akan segera hancur... Musuh menggunakan narasi ini untuk memengaruhi nilai tukar mata uang kita," kata Darabi kepada televisi pemerintah, seraya menambahkan bahwa pelemahan rial saat ini hanya bersifat sementara.
Sumber: Arabnews