Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) periode 2022 hingga 2026 Dr. Ariawan, S.AP., M.H., M.A. Foto: kwp/katakini
BOGOR — Pergantian kepengurusan Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) periode 2026-2028 bukan sekadar momentum memilih pemimpin baru, tetapi juga menjadi ujian untuk menjaga kekompakan seluruh anggotanya.
Ketua KWP periode 2022-2026 Ariawan menitipkan pesan agar kepengurusan baru mampu merawat persatuan sekaligus mempertahankan hubungan baik dengan DPR sebagai mitra kerja yang saling berkesinambungan.
Pesan tersebut disampaikan Ariawan dalam pemilihan Ketua KWP periode 2026-2028 yang berlangsung di Wisma DPR, Kopo, Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).
"Yang paling penting, kepengurusan KWP 2026-2028 harus bisa menjaga persatuan seluruh anggota KWP," ujar Ariawan.
Menurut Ariawan, soliditas internal menjadi modal penting bagi KWP dalam menjalankan peran jurnalistik di lingkungan parlemen.
"Jangan sampai pergantian kepengurusan justru membuat anggota KWP terpecah, karena kekuatan KWP ada pada kebersamaan seluruh anggotanya," katanya.
Selain menjaga persatuan internal, Ariawan mengingatkan kepengurusan KWP yang baru untuk terus membangun komunikasi dan hubungan baik dengan DPR.
Hubungan tersebut, kata dia, perlu dijaga secara menyeluruh, mulai dari jajaran Sekretariat Jenderal DPR hingga para anggota DPR yang menjadi mitra kerja wartawan parlemen.
"KWP harus tetap menjaga hubungan baik dengan DPR, mulai dari kesekjenan sampai anggota DPR," kata Ariawan.
Dia menilai hubungan yang terjalin dengan baik akan membantu menciptakan komunikasi yang sehat antara wartawan parlemen dan lembaga legislatif.
Ariawan menekankan hubungan KWP dengan DPR bukan sekadar hubungan antara wartawan dan narasumber, melainkan relasi profesional yang perlu dijaga secara berkesinambungan.
"Kita harus menjaga hubungan yang baik dan saling berkesinambungan, sehingga KWP tetap bisa menjalankan tugas jurnalistiknya dengan baik," ujarnya.
Dia berharap kepengurusan KWP 2026-2028 dapat melanjutkan hal-hal positif yang telah dibangun oleh kepengurusan sebelumnya tanpa mengesampingkan kebutuhan untuk melakukan pembenahan.