• Info DPR

Novita: Bukan Sekadar Pertunjukan, Jaranan Identitas dan Kekuatan Ekonomi Trenggalek

Aliyudin | Senin, 21/09/2026 19:45 WIB

Novita: Bukan Sekadar Pertunjukan, Jaranan Identitas dan Kekuatan Ekonomi Trenggalek Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini. Foto: katakini.com

TRENGGALEK, Jurnas.com - Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Novita Hardini menilai Festival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) harus berkembang dari sekadar agenda seni menjadi penggerak pariwisata dan ekonomi daerah.

“Jaranan bukan sekadar pertunjukan. Di setiap geraknya ada cerita, di setiap iramanya ada perjalanan, dan di setiap pertunjukannya ada semangat masyarakat menjaga warisan dari generasi ke generasi,” ujar Novita dalam keterangan resminya, Senin (21/9/2026).

Legislator yang baru-baru ini membawa Turonggo Yakso tampil Yeosu World Island Fair 2026 Korea Selatan mengatakan, 30 tahun FJTT bukan sekadar angka, melainkan perjalanan membangun ekosistem kesenian. Beragam gaya jaranan tidak semestinya dipertentangkan, tetapi dipertemukan sebagai ruang ekspresi, regenerasi, dan perjumpaan.

Masuknya FJTT ke Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 menjadi peluang membawa jaranan Trenggalek dari ruang lokal menuju panggung nasional dan internasional, sekaligus menuntut pengelolaan event yang mampu menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

“Masuk KEN bukan sekadar label. Ini kesempatan membuat jaranan Trenggalek dikenal lebih luas. Tetapi setelah dikenal, harus ada dampaknya, wisatawan datang, UMKM bergerak, seniman mendapat ruang, dan ekonomi lokal tumbuh,” tegasnya.

Novita menilai kekuatan FJTT terletak pada kemampuannya menjadikan budaya sebagai alasan orang datang ke Trenggalek. Karena itu, festival harus terhubung dengan destinasi wisata, kuliner, kriya, UMKM, akomodasi, transportasi, dan industri kreatif.

Jaranan, khususnya Turonggo Yakso, harus dikembangkan sebagai identitas khas Trenggalek tanpa kehilangan akar tradisinya. “Kita ingin jaranan menjadi kebanggaan bersama. Rawat budayanya, dukung senimannya, dan beri ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk meneruskannya,” ujar Novita.

Bagi Novita, ukuran keberhasilan festival budaya tidak berhenti pada jumlah penonton. Ketika wisatawan datang, harus ada warung yang mendapat pembeli, UMKM memperoleh pesanan, penginapan terisi, transportasi bergerak, dan seniman mendapatkan peluang ekonomi. FJTT 2026 yang memadukan pertunjukan dengan bazar UMKM, kuliner tradisional, pameran budaya, dan kegiatan ekonomi kreatif harus mampu memperluas rantai manfaat tersebut.

“Event budaya yang baik bukan hanya membuat penonton pulang membawa pengalaman. Event yang baik juga membuat masyarakat lokal pulang membawa manfaat ekonomi,” kata Novita.

Ia pun mendorong pemerintah daerah, komunitas seni, pelaku UMKM, sektor pariwisata, dan pemerintah pusat menjadikan momentum KEN sebagai pijakan memperluas promosi jaranan ke tingkat nasional dan internasional.

Novita pun mengajak seluruh pihak menjadikan 30 tahun FJTT sebagai awal perjalanan baru. “Mari kita jadikan jaranan sebagai kebanggaan bersama. Rawat budayanya, dukung senimannya, dan beri ruang kepada generasi muda. Mari kita dorong Trenggalek untuk siap menjadi rumah jaranan dunia,” pungkasnya. 

FJTT ke-30 resmi dibuka pada 20 September 2026 dan berlangsung hingga 26 September di Alun-Alun Trenggalek, sebagai bagian dari KEN 2026 yang mempertemukan kelompok jaranan dari berbagai daerah.