Arsip foto - Orang-orang berjalan di dalam Grand Bazaar yang ditutup di Teheran, Iran, pada 16 Juni 2025. (FOTO: EPA-EFE)
TEHERAN - Ekonomi Iran menyusut lebih dari 10 persen selama perang Timur Tengah. Konflik yang bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari tersebut telah memicu gejolak sekaligus memukul telak perekonomian republik Islam itu.
Pusat Statistik Iran pada Minggu (20/9) melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) negara tersebut merosot sebesar 10,1 persen secara tahunan (year-on-year) pada rentang waktu akhir Maret hingga akhir Juni.
Periode tiga bulan tersebut dikenal di Iran sebagai penanda kuartal pertama dalam sistem kalender Persia.
Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Iran, yang kemudian dibalas oleh negara tersebut.
Setelah kedua pihak saling serang selama berbulan-bulan, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan konflik tersebut pada pertengahan Juni. Namun, serangan kembali terjadi tidak lama usai perjanjian tersebut berlaku.
Hingga kini, perseteruan kedua negara masih belum dapat diselesaikan. Bahkan, AS memutuskan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai upaya untuk mengakhiri konflik dengan menciptakan beban finansial tambahan bagi negara Islam tersebut.