Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin
JAKARTA - Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk meningkatkan perlindungan diri seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau warga menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara menurun. Langkah tersebut penting untuk mengurangi paparan partikel halus PM2,5 yang terdapat dalam asap karhutla.
"Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2.5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA," kata Menkes Budi dalam keterangan resmi dikutip Senin (24/8).
PM2,5 merupakan partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat dihasilkan dari pembakaran hutan dan lahan.
Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru. Paparan asap karhutla kemudian dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga batuk serta sesak napas.
Pada orang yang memiliki penyakit paru kronis, paparan tersebut juga berpotensi memperburuk kondisi yang sudah ada.
Karena itu, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang paling mudah dilakukan ketika kualitas udara mulai memburuk.
Data Kementerian Kesehatan hingga 21 Agustus 2026 menunjukkan karhutla telah menyebar ke 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi. Wilayah tersebut meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Dari wilayah tersebut, sekitar 3 juta jiwa di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap. Kondisi ini membuat perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi perhatian khusus, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru.
Kemenkes juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang muncul selama terpapar asap karhutla.
Warga yang mengalami sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, atau iritasi mata berat dianjurkan segera mencari pertolongan medis di puskesmas atau rumah sakit terdekat. Penanganan lebih awal diperlukan agar gangguan kesehatan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Selain menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar, masyarakat dianjurkan memantau indeks kualitas udara secara berkala melalui aplikasi atau kanal resmi yang tersedia.
Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan sebelum memutuskan beraktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.