Presiden Republik Irak, Nizar Amidi, berbicara di Parlemen setelah terpilih di Baghdad, Irak, Sabtu, 11 April 2026 (Foto: Kantor Media Parlemen Irak via AP)
BAGHDAD - Presiden Irak Nizar Amidi menegaskan bahwa Baghdad tidak akan menerima wilayahnya dijadikan sebagai basis peluncuran serangan terhadap negara lain.
Berbicara pada hari kedua Konferensi Dialog Baghdad ke-8, Amidi menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan dari dalam wilayah Irak terhadap negara-negara di kawasan "tidak memiliki pembenaran apa pun."
Ia mengungkapkan hanya tinggal "dua atau tiga" faksi bersenjata di Irak yang belum menyerahkan persenjataannya. Amidi menambahkan bahwa proses dialog terus berjalan guna membatasi kepemilikan senjata agar sepenuhnya berada di bawah kendali negara. "Konstitusi secara tegas mengatur bahwa senjata harus dibatasi di bawah kendali negara, dan otoritas keagamaan di Najaf juga menyerukan hal tersebut," ujar Amidi.
"Semua pihak berupaya keras mencegah Irak terseret ke dalam perang yang tengah berlangsung di kawasan," tegasnya, seraya menambahkan bahwa dampak konflik tersebut "sangat berat bagi negara kami."
Mengenai dinamika Selat Hormuz, Amidi menilai isu tersebut "mempengaruhi seluruh dunia, tidak hanya Irak." Ia mengonfirmasi bahwa Baghdad terus menggelar pembicaraan dengan pihak Iran terkait hal yang ia gambarkan sebagai "masalah kompleks" di selat strategis tersebut.
Ia menambahkan bahwa sejumlah kapal yang mengangkut minyak milik Irak telah diberikan kemudahan melintas di Selat Hormuz, serta menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat menginginkan adanya kesepakatan guna mengakhiri perang di kawasan.