Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini. Foto: dpr/katakini
PONOROGO — Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan. Mereka harus memahami bagaimana kebijakan publik dibentuk, mengkritisi persoalan di sekitarnya, dan mengambil peran dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, saat menjadi narasumber dalam kuliah tamu Universitas Merdeka (UNMER) Malang Kampus PDKU Ponorogo, Sabtu (15/8/2026).
Novita menilai, pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda, menjadi faktor penting untuk memastikan kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Generasi muda memiliki peran penting melalui kemampuan berpikir kritis, kepedulian terhadap persoalan masyarakat, dan kesiapan untuk berkontribusi bagi daerah,” ujar Novita melalui keterangannya, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi strategis karena berada di ruang akademik sekaligus menjadi bagian dari kelompok masyarakat yang akan menentukan arah Indonesia di masa depan.
Karena itu, Novita mendorong mahasiswa tidak berhenti pada aktivitas akademik, tetapi mulai memahami bagaimana sebuah kebijakan dirumuskan, siapa yang terdampak, serta bagaimana memastikan kebijakan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi penikmat kebijakan. Pahami bagaimana kebijakan itu dibuat, siapa yang menentukan, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat,” tegasnya.
Novita juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam penguatan ekonomi daerah.
Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan generasi yang mampu membaca potensi lokal sekaligus beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan teknologi.
Kepastian hukum, kata dia, juga menjadi fondasi penting agar aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha dapat berkembang secara sehat.
“Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari angka pertumbuhan ekonomi. Kita membutuhkan manusia yang kritis, berintegritas, memahami persoalan daerah, dan berani mengambil bagian dalam menyelesaikannya,” ujarnya.
Ia berharap kuliah tamu tersebut tidak berhenti sebagai forum akademik, tetapi menjadi momentum bagi mahasiswa Ponorogo untuk semakin aktif membaca persoalan daerah dan menawarkan gagasan konkret.
“Kampus harus menjadi tempat lahirnya gagasan, keberanian, dan solusi. Karena masa depan daerah dan Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda,” pungkas Novita.