• Info DPR

Atalia Praratya Nilai Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta Rendahkan Perempuan

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 02/07/2026 10:24 WIB
Atalia Praratya Nilai Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta Rendahkan Perempuan Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya (Foto: dpr)

JAKARTA - Anggota DPR RI Komisi VIII Atalia Praratya menilai Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein telah merendahkan kaum perempuan melalui lagu dengan Bahasa Sunda yang berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat".

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?," kata Atalia melalui unggahan akun Instagramnya @ataliapr.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya pada Rabu (1/7), Atalia Praratya mengunggah lagu ciptaan Binzein berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" dan menaruh pertanyaan: "Lagu ciptaan pejabat publik seperti ini?".

Ia menilai lagu tersebut bukanlah karya, namun mencerminkan pola pikir yang cenderung merusak. Atalia mempertanyakan lagu tersebut apakah karya atau bukan karena liriknya bisa dimaknai merendahkan perempuan.

"Jujur saya tidak habis pikir, se-positif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," ungkapnya.

Atalia menyampaikan tak habis pikir, dari sekian banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah dan dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan, mengapa justru narasi seperti merendah perempuan yang dipilih?

"Sebodoh apapun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi. Saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," katanya.

Sementara itu Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein mengaku lagu tersebut diciptakan bukan untuk menyudutkan atau menyinggung kelompok tertentu, khususnya kaum perempuan.

Ia mengungkapkan karya berbentuk puisi dan lagu itu sudah ditulis sejak beberapa tahun silam sebagai cerminan pribadi.

"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," katanya.

Lirik lagu yang tertuang di dalamnya dianggap sebagai bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya pada masa lalu. Ia memandang karya ini sebagai medium kontemplasi spiritual dan emosional atas perjalanan hidupnya.

Meski demikian ia menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan dan ketidaknyamanan yang sempat timbul akibat lirik lagu tersebut.

"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya. (Ant)