• Gaya Hidup

Mengapa Hari Berkabung Daerah Kalbar Diperingati Setiap 28 Juni?

Vaza Diva | Minggu, 28/06/2026 17:45 WIB
Mengapa Hari Berkabung Daerah Kalbar Diperingati Setiap 28 Juni? Ilustrasi - Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni (Foto: okezone)

JAKARTA - Setiap 28 Juni, masyarakat Kalimantan Barat memperingati Hari Berkabung Daerah sebagai momen mengenang salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia, yakni Peristiwa Mandor atau Tragedi Mandor Berdarah.

Peringatan ini menjadi penghormatan bagi puluhan ribu korban yang gugur akibat pembantaian yang dilakukan tentara pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.

Hari Berkabung Daerah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 5 Tahun 2007 tentang Peristiwa Mandor, yang menetapkan tanggal 28 Juni sebagai hari untuk mengenang para pejuang, tokoh masyarakat, ulama, bangsawan, cendekiawan, hingga warga sipil yang menjadi korban kekejaman penjajah Jepang.

Peristiwa Mandor berlangsung sejak 1943 hingga mencapai puncaknya pada 28 Juni 1944. Saat itu, tentara Jepang melakukan penangkapan dan eksekusi terhadap tokoh-tokoh yang dianggap berpotensi mengancam kekuasaan mereka di Kalimantan Barat.

Korban berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari para raja dan sultan, tokoh adat, pemuka agama, guru, pedagang, hingga masyarakat umum tanpa memandang suku maupun agama.

Sejumlah catatan sejarah memperkirakan lebih dari 21.000 orang menjadi korban dalam tragedi tersebut. Banyak di antara mereka dimakamkan di kawasan yang kini dikenal sebagai Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak.

Lokasi itu kemudian ditetapkan sebagai monumen daerah sekaligus menjadi pusat pelaksanaan upacara dan ziarah setiap Hari Berkabung Daerah. Peringatan Hari Berkabung Daerah tidak hanya diwujudkan melalui upacara penghormatan.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga mengimbau seluruh instansi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih setengah tiang sebagai simbol duka dan penghormatan kepada para korban. Tradisi ini telah menjadi bagian dari peringatan tahunan di Kalimantan Barat.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, Tragedi Mandor bukan sekadar catatan sejarah, melainkan memori kolektif yang membentuk identitas daerah. Para sejarawan menilai tragedi tersebut menjadi salah satu pembantaian terbesar yang terjadi selama masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Meski dampaknya sangat besar, Peristiwa Mandor dinilai belum banyak dikenal di tingkat nasional dibandingkan tragedi sejarah lainnya.