Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel yang menargetkan wilayah di kota Nabatieh, Lebanon selatan, pada 11 April 2026 (Foto: Abbas Fakih/AFP)
BEIRUT – Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam mengungkapkan bahwa Israel telah meluncurkan hampir 3.500 serangan udara dan ratusan aksi pembongkaran paksa di Lebanon sejak Amerika Serikat (AS) mengumumkan gencatan senjata untuk negara tersebut pada 16 April lalu.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya di platform X pasca-rapat kabinet, Salam memaparkan bahwa sejak 17 April hingga 7 Juni, Israel telah melakukan 3.491 serangan udara, 407 pembongkaran bangunan, dan enam operasi "perataan tanah" yang menyapu bersih seluruh desa di wilayah paling selatan Lebanon.
Salam menegaskan bahwa Lebanon terus berupaya keras untuk mempertahankan kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Namun, eskalasi terbaru yang terjadi antara Iran dan Israel justru memicu gelombang pengungsian baru, yang kian membebani kemampuan negara untuk menampung keluarga-keluarga yang melarikan diri.
"(Perdana Menteri) menyoroti bahaya dari eskalasi Iran-Israel beserta dampaknya, terutama terkait gelombang pengungsian tambahan yang ditimbulkan serta bagaimana cara menampung mereka. Mengingat saat ini kapasitas tampung di Beirut, Sidon, dan wilayah lainnya telah mencapai batas maksimal," tulis unggahan tersebut.
Sebagai informasi, lebih dari satu juta orang—atau setara dengan seperlima dari total populasi Lebanon—telah mengungsi akibat serangan udara Israel dan ancaman evakuasi paksa di seluruh Lebanon sejak perang pertama kali pecah pada 2 Maret lalu.