Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi (Foto via REUTERS)
TOKYO - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Senin, menyerukan kelancaran dan keamanan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz yang secara efektif tertutup.
Di tengah ketidakpastian mengenai kemajuan negosiasi perdamaian guna mengakhiri perang AS dan Israel melawan Iran, Takaichi mengatakan kepada wartawan bahwa ia juga menyatakan "harapan besar” agar Iran "akan menunjukkan fleksibilitas dan bahwa kesepakatan dapat dicapai sesegera mungkin."
Takaichi dan Pezeshkian mengadakan percakapan telepon ketiga mereka sejak konflik dimulai pada akhir Februari. Dalam percakapan itu, Takaichi mengatakan Pezeshkian memberikan laporan tentang perkembangan negosiasi Iran-AS.
Takaichi mengatakan ia dan Pezeshkian sepakat untuk melanjutkan komunikasi yang erat menuju penyelesaian konflik. Meskipun merupakan sekutu dekat AS, Jepang dikenal secara tradisional menjaga hubungan yang bersahabat dengan Iran.
Mengenai penutupan selat yang masih berlangsung, Takaichi menyerukan agar jalur aman "segera diwujudkan untuk kapal-kapal dari semua negara, termasuk Jepang dan negara-negara Asia lainnya."
Banyak negara Asia yang miskin sumber daya, termasuk Jepang, menghadapi tantangan ekonomi akibat kenaikan harga minyak mentah dan kekurangan komoditas utama karena ketergantungan mereka pada Timur Tengah untuk impor yang sebagian besar melewati Selat Homuz.
Namun, beberapa kapal yang terkait dengan Jepang telah melewati selat tersebut, termasuk sebuah kapal tanker yang dioperasikan oleh unit dari perusahaan penyulingan besar Idemitsu Kosan Co. yang pada 25 Mei menjadi kapal pertama yang tiba di negara itu sejak konflik dimulai.
Laporan media AS dan Iran mengatakan kedua belah pihak sedang berupaya merevisi nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata mereka selama 60 hari, meskipun sumber pemerintah AS mengatakan para negosiator telah menyetujui sebagian besar poin kesepakatan pekan lalu.
Sumber: Kyodo