• News

Iran Kecam Serangan Amerika Serikat di Bandar Abbas

Vaza Diva | Jum'at, 29/05/2026 14:30 WIB
Iran Kecam Serangan Amerika Serikat di Bandar Abbas Bendera AS dan Iran terlihat dalam ilustrasi ini, dibuat pada 18 Juni 2025. REUTERS

JAKARTA - Iran melontarkan kecaman keras terhadap serangan militer Amerika Serikat di dekat Bandar Abbas, Iran selatan, yang terjadi pada Kamis (28/5) dini hari.

Pemerintah Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional sekaligus ancaman baru bagi stabilitas kawasan Timur Tengah.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan yang dilakukan pasukan AS itu merupakan bentuk agresi terhadap kedaulatan negaranya.

“Serangan Amerika Serikat di dekat Bandar Abbas adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Baghaei dalam pernyataan resminya.

Iran juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan tegas terhadap Washington. Menurut Baghaei, Amerika Serikat harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang dianggap menyerang integritas wilayah Iran.

Selain mengecam serangan terbaru tersebut, Iran menuduh AS terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 8 April lalu.

Baghaei menyebut Washington masih melakukan serangan terhadap kapal dagang di kawasan Teluk hingga operasi militer udara di wilayah selatan Iran.

Ia menegaskan bahwa Iran memiliki hak penuh untuk membela diri sesuai aturan internasional.

“Iran akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya sesuai Pasal 51 Piagam PBB,” ujarnya.

Baghaei juga mengecam pernyataan sejumlah pejabat AS yang dinilai bernada ancaman terhadap Iran dan negara-negara lain di kawasan, termasuk Oman. Iran menilai ancaman terhadap Oman berbahaya karena negara tersebut selama ini aktif menjadi mediator perdamaian regional.

“Ancaman penghancuran terhadap negara anggota PBB seperti Oman merupakan bentuk normalisasi pelanggaran hukum dan intimidasi dalam hubungan internasional,” kata Baghaei.

Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat memberikan versi berbeda terkait insiden tersebut. Seorang pejabat AS kepada Anadolu menyebut pasukan Amerika menembak jatuh empat drone Iran di dekat Selat Hormuz dan menghancurkan stasiun kendali drone di Bandar Abbas.

Pihak AS mengklaim operasi itu bersifat defensif dan dilakukan untuk menjaga stabilitas gencatan senjata yang sedang berlangsung.

“Tindakan ini terukur dan murni defensif,” kata pejabat AS tersebut.

Ketegangan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan balasan ke pangkalan udara AS di Kuwait. Serangan itu disebut sebagai respons langsung atas operasi militer Amerika di dekat Bandara Bandar Abbas.

Menurut laporan Tasnim News Agency, IRGC melancarkan serangan hanya beberapa jam setelah proyektil udara AS menghantam area dekat bandar udara di kota pelabuhan tersebut.

Situasi terbaru ini memperlihatkan rapuhnya proses perdamaian yang sebelumnya dimediasi Pakistan.

Gencatan senjata memang telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh Presiden AS Donald Trump, namun hubungan kedua negara tetap dipenuhi ketegangan, terutama setelah perang besar pecah pada 28 Februari lalu.

Konflik tersebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah titik di kawasan Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz.

Hingga kini, upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan permanen antara kedua pihak masih belum menunjukkan hasil signifikan. (Anadolu)