• Oase

Ini Sejarah dan Asal Usul Penamaan Bulan Dzulhijjah

Vaza Diva | Rabu, 13/05/2026 12:05 WIB
Ini Sejarah dan Asal Usul Penamaan Bulan Dzulhijjah Ilusrasi - Bulan Dzulhijjah (Foto: RRI)

JAKARTA - Dzulhijjah merupakan salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Hijriah.

Bulan ini identik dengan pelaksanaan ibadah haji dan Hari Raya Iduladha yang dirayakan umat Islam di seluruh dunia.

Namun, di balik kemuliaannya, Dzulhijjah memiliki sejarah panjang serta makna penamaan yang erat kaitannya dengan tradisi ibadah sejak masa Arab kuno hingga datangnya Islam.

Secara bahasa, kata “Dzulhijjah” berasal dari bahasa Arab ذو الحجة (Dzul Hijjah).

Kata “Dzul” berarti “pemilik” atau “yang memiliki”, sedangkan “Hijjah” berarti “haji” atau “ziarah”. Karena itu, Dzulhijjah dapat dimaknai sebagai “bulan pelaksanaan haji”.

Penamaan tersebut bukan tanpa alasan. Sejak zaman sebelum Islam, masyarakat Arab telah mengenal tradisi berhaji ke Kabah di Makkah.

Meski pelaksanaannya saat itu masih bercampur dengan praktik-praktik jahiliyah, bulan Dzulhijjah tetap dikenal sebagai waktu utama untuk menunaikan ritual haji.

Setelah Islam datang, Rasulullah SAW menyempurnakan tata cara ibadah haji sesuai syariat yang diajarkan Allah SWT.

Sejak saat itu, Dzulhijjah menjadi bulan suci yang memiliki banyak keutamaan, terutama pada sepuluh hari pertamanya.

Allah SWT bahkan bersumpah atas kemuliaan hari-hari di awal bulan Dzulhijjah sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Fajr ayat 1-2:

وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Artinya: “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa `malam yang sepuluh` dalam ayat tersebut merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena besarnya keutamaan amal ibadah di dalamnya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan kemuliaan hari-hari tersebut dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ

Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)

Dalam sejarah kalender Islam, Dzulhijjah termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an Surah At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ ... مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah... di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjauhi perbuatan maksiat.

Dzulhijjah juga menjadi saksi sejarah pelaksanaan haji wada’, yakni haji terakhir Rasulullah SAW pada tahun 10 Hijriah.

Dalam momentum itu, Nabi Muhammad SAW menyampaikan khutbah perpisahan yang berisi pesan penting tentang persaudaraan, hak asasi manusia, dan ketakwaan.

Selain ibadah haji, bulan Dzulhijjah identik dengan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Iduladha yang jatuh setiap 10 Dzulhijjah.

Tradisi kurban berasal dari kisah ketakwaan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, saat menjalankan perintah Allah SWT.