Panglima perang Inong Balee Aceh, Keumalahayati (Foto: Wikipedia)
JAKARTA - 21 April memang identik dengan peringatan Hari Kartini sebagai simbol perjuangan emansipasi dan pendidikan perempuan.
Namun, lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia juga mencatat deretan nama perempuan tangguh lainnya yang memiliki jasa tidak kalah besar.
Jika Kartini berjuang melalui pena dan pemikiran, banyak sosok pahlawan perempuan lain yang justru turun langsung ke medan perang, memimpin pasukan, hingga mendirikan organisasi pergerakan nasional.
Melansir dari berbagai sumber, berikut ini beberapa sosok pahlawan nasional perempuan selain RA Kartini yang memiliki peran krusial dalam perjalanan bangsa:
1. Cut Nyak Dhien
Cut Nyak Dhien merupakan sosok pejuang yang sangat disegani oleh pihak Belanda.
Setelah gugurnya sang suami, Teuku Umar, ia tidak lantas menyerah. Sebaliknya, ia mengambil alih komando pasukan dan memimpin perang gerilya di hutan Aceh selama puluhan tahun.
Meski usianya kian senja dan penglihatannya mulai rabun, semangatnya untuk mengusir penjajah dari Tanah Rencong tidak pernah padam hingga akhir hayatnya di pengasingan.
2. Martha Christina Tiahahu
Lahir di Maluku, Martha Christina Tiahahu telah turun ke medan perang saat usianya baru menginjak 17 tahun.
Mendampingi ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, ia menunjukkan keberanian yang luar biasa dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di Maluku.
Martha dikenal sebagai gadis yang berani memimpin barisan pejuang dan tidak gentar meski harus menghadapi persenjataan lengkap penjajah hanya dengan senjata tradisional.
3. Dewi Sartika
Memiliki visi yang sejalan dengan Kartini namun menempuh langkah yang lebih praktis, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri di Bandung pada tahun 1904.
Ini merupakan sekolah pertama di Indonesia yang didedikasikan khusus bagi kaum perempuan.
Di sana, para siswi tidak hanya diajarkan baca-tulis, tetapi juga keterampilan rumah tangga dan kerajinan tangan agar mampu menjadi perempuan yang mandiri dan terampil.
4. Malahayati
Malahayati adalah seorang laksamana laut yang memimpin pasukan "Inong Balee", sebuah armada yang terdiri dari para janda pejuang Aceh yang gugur.
Ketegasannya teruji saat ia berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di atas geladak kapal pada tahun 1599.
Keberaniannya di laut membuat namanya melegenda sebagai salah satu pemimpin maritim perempuan terhebat yang pernah dimiliki dunia.
5. Maria Walanda Maramis
Jika di Jawa ada Kartini dan Dewi Sartika, maka di Sulawesi Utara terdapat Maria Walanda Maramis.
Ia mendirikan organisasi bernama PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya) yang bertujuan meningkatkan taraf hidup perempuan Minahasa.
Maria berjuang agar perempuan memiliki suara dalam urusan publik dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk membina generasi penerus yang lebih cerdas.