• Gaya Hidup

Pengukuran Baru Ungkap Jupiter Lebih Kecil dan Lebih Pipih

Agus Mughni Muttaqin | Kamis, 05/02/2026 20:50 WIB
Pengukuran Baru Ungkap Jupiter Lebih Kecil dan Lebih Pipih Misi penjelajah bulan JUpiter ICy, JUICE, terlihat dalam selebaran gambar artis dari NASA. REUTERS

JAKARTA - Planet raksasa Jupiter ternyata sedikit lebih kecil dan lebih pipih dibandingkan ukuran yang selama puluhan tahun tercantum dalam buku teks astronomi. Temuan ini berasal dari analisis terbaru data wahana antariksa Juno, yang mengorbit Jupiter sejak 2016.

Meski selisih ukurannya relatif kecil, hasil baru ini dinilai penting karena meningkatkan akurasi pemodelan struktur internal Jupiter. Para peneliti menyebut temuan tersebut cukup signifikan hingga buku pelajaran sains perlu diperbarui.

Dikutip dari Live Science, selama hampir 50 tahun, ukuran dan bentuk Jupiter mengacu pada data misi Voyager dan Pioneer yang dilakukan pada era 1970-an. Pengukuran lama itu menggunakan sinyal radio, namun keterbatasan data saat itu membuat presisinya belum maksimal.

Dalam dua tahun terakhir, Juno mengumpulkan data radio dalam jumlah jauh lebih besar, memungkinkan pengukuran ulang dengan ketelitian hingga sekitar 400 meter. Data ini memberi gambaran yang lebih rinci tentang bagaimana Jupiter benar-benar terbentuk.

Para ilmuwan melacak bagaimana sinyal radio dari Juno ke Bumi membelok saat melewati atmosfer Jupiter sebelum akhirnya terhalang oleh planet itu sendiri. Dari perubahan sinyal tersebut, peneliti dapat memperhitungkan pengaruh angin kencang Jupiter yang sedikit mengubah bentuk planet gas tersebut.

Hasilnya menunjukkan bahwa jarak dari pusat Jupiter ke kutubnya kini diukur sekitar 66.842 kilometer, lebih kecil sekitar 12 kilometer dari estimasi sebelumnya. Sementara itu, jari-jari di wilayah ekuator tercatat sekitar 71.488 kilometer, atau sekitar 4 kilometer lebih kecil dari data lama.

Perbedaan beberapa kilometer ini dinilai krusial karena membuat model interior Jupiter lebih konsisten dengan data gravitasi dan pengamatan atmosfer. Dengan ukuran baru, struktur dalam planet dapat dijelaskan dengan lebih akurat.

Pemutakhiran data ini tidak hanya penting untuk memahami Jupiter, tetapi juga membantu ilmuwan mempelajari planet raksasa gas di luar Tata Surya. Jupiter kerap dijadikan pembanding utama untuk memahami planet-planet sejenis di sistem bintang lain.

Para peneliti menegaskan bahwa Jupiter tidak berubah ukuran, melainkan cara manusia mengukurnya kini semakin presisi. Dengan memahami Jupiter lebih baik, ilmuwan berharap dapat mengungkap proses awal pembentukan planet dan evolusi Tata Surya secara lebih menyeluruh. (*)